Tradisi Konklaf, Proses Pemilihan Paus dalam Gereja Katolik
- https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-04/pope-francis-funeral-saturday-novemdiales-lie-in-state.html
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi –Wafatnya Paus Fransiskus baru-baru ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia, tetapi juga menandai dimulainya salah satu tradisi tertua dan paling sakral dalam Gereja Katolik, yaitu konklaf.
Di balik dinding Kapel Sistina yang tertutup rapat, para kardinal akan berkumpul dalam proses yang penuh pertimbangan rohani untuk memilih penerus pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Bagi banyak orang, istilah konklaf mungkin terdengar asing, sehingga tak jarang muncul pertanyaan apa itu konklaf dan bagaimana tata cara pemilihan Paus sebenarnya berlangsung.
Dikutip dari berbagai sumber resmi seperti catholic.com, theguardian.com, dan newadvent.org, berikut adalah penjelasan mengenai apa itu konklaf dan bagaimana tata cara konklaf dalam Gereja Katolik.
Konklaf, atau biasa disebut “Papal Conclave” adalah proses pemilihan Paus sebagai pemimpin tertinggi baru Gereja Katolik. Umat Katolik percaya bahwa Paus adalah wakil Kristus dan penerus Santo Petrus, pemimpin Gereja universal yang nyata. Nama "konklaf" berasal dari bahasa Latin cum clave, yang berarti "dengan kunci", yang menggambarkan proses tertutup dalam pemilihan Paus.
Ketika seorang Paus meninggal dunia atau secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya, Gereja Katolik akan menjalankan sebuah proses yang telah diwariskan dan diatur secara ketat selama berabad-abad. Masa transisi ini dikenal sebagai interregnum, istilah Latin yang berarti "antara dua pemerintahan", menandakan jeda waktu antara berakhirnya masa kepemimpinan Paus yang lama hingga terpilihnya Paus yang baru.
Kasus seorang Paus yang mengundurkan diri tergolong sangat langka. Pada Februari 2013, Paus Benediktus XVI menjadi Paus pertama dalam hampir enam abad terakhir yang secara resmi melepaskan jabatannya.
Apabila seorang Paus wafat, Kardinal Camerlengo yang bertindak sebagai perwakilan dari Dewan Kardinal akan mengambil alih tanggung jawab atas kediaman kepausan. Dalam tugas resminya, Camerlengo melakukan verifikasi atas wafatnya Paus melalui sebuah tindakan yudisial.
Camerlengo akan memanggil Paus yang telah wafat dengan nama baptisnya, sembari mengetukkan palu perak ke dahinya sebanyak tiga kali sebagai tanda pengesahan kematian. Setelah itu, cincin yang diberi nama Fisherman's Ring atau Cincin Sang Nelayan berdasarkan kisah cincin rasul Kristen bernama Santo Petrus, yang menjadi simbol otoritas Paus beserta segel-segel resmi kepausan akan dihancurkan untuk menandai berakhirnya masa jabatan Paus tersebut.