Seren Taun, Warisan Spiritual Masyarakat Sunda yang Penuh Syukur

Prosesi Ngajayak – Warga membawa hasil panen ke leuit indung
Sumber :
  • https://www.infobudaya.net/2017/09/seren-taun-upacara-adat-panen-masyarakat-sunda/

Budaya, VIVA Banyuwangi –Festival Seren Taun merupakan salah satu upacara adat paling sakral dan bersejarah dalam kebudayaan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang telah diterima selama setahun penuh serta permohonan berkah dan kesuburan untuk tahun mendatang. Lebih dari sekadar seremoni, Seren Taun mencerminkan kearifan lokal, spiritualitas agraris, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Seren Taun berasal dari kata “seren” yang berarti menyerahkan, dan “taun” yang berarti tahun. Dengan demikian, makna harfiahnya adalah menyerahkan atau mengakhiri tahun panen sebagai tanda syukur. Festival ini dipusatkan di beberapa lokasi adat seperti Cigugur (Kuningan), Kampung Adat Ciptagelar (Sukabumi), dan Sindang Barang (Bogor). Setiap daerah memiliki nuansa dan ciri khasnya masing-masing, namun intisari upacara tetap serupa: spiritual, komunal, dan penuh simbol budaya.

Di Cigugur, Kuningan, upacara biasanya diselenggarakan setiap tanggal 22 Rayagung dalam penanggalan kalender Sunda. Salah satu prosesi paling penting adalah "Ngajayak", yaitu membawa hasil panen padi ke lokasi upacara dengan diiringi kesenian tradisional dan arak-arakan warga mengenakan pakaian adat. Padi-padi tersebut kemudian disimpan di lumbung induk (leuit indung) sebagai simbol ketersediaan pangan dan keberlanjutan hidup.

Upacara ini juga mencakup ritual penyucian menggunakan air dari tujuh mata air suci, yang mencerminkan penyatuan unsur alam dengan manusia. Selain itu, warga membawa sedekah berupa tumpeng dan kue-kue tradisional sebagai simbol persembahan dan solidaritas sosial. Pertunjukan seni seperti angklung, wayang golek, tari jaipong, hingga pembacaan naskah-naskah kuno turut memeriahkan rangkaian acara.

Rangkaian Ritual

img_title Entas-Entas Upacara Kematian Suku Tengger, Ritual Sakral Untuk Jiwa Yang Telah Pergi

Seren Taun terdiri dari beberapa tahapan ritual yang sarat makna:​

1. Ngajayak

img_title Grebeg Suran Baturraden Tradisi Banyumas yang Sarat Makna dan Warisan Leluhur

Prosesi membawa hasil panen padi ke tempat upacara dengan iringan musik tradisional.​

2. Penyimpanan Padi

Padi disimpan di lumbung utama (leuit indung) dan lumbung pendamping (leuit leutik) sebagai simbol kesejahteraan dan keberlanjutan.​

3. Pengambilan Air Suci

Air dari tujuh mata air suci dikumpulkan dan digunakan dalam prosesi penyucian.​

4. Sedekah Kue dan Tumpeng

Masyarakat membawa kue tradisional dan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, yang kemudian dibagikan kepada peserta upacara.​

Halaman Selanjutnya
img_title