Mengenal Keindahan Tari Bedhaya Gandakusuma Yogyakarta
- https://www.instagram.com/p/CykCnVmv-
Budaya, VIVA Banyuwangi – Bedhaya Gandakusuma atau Bedhaya bedhah Madiun merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta tentang kejatuhan Kadipaten Madiun pada awal kebangkitan Mataram.
Tarian ini juga sekaligus berkisah tentang perjumpaan Panembahan Senopati dari Mataram dengan Retno Dumilah, putri Panembahan Madiun.
Ada beberapa pendapat mengenai kapan tarian ini diciptakan, namun dalam lingkungan Keraton Ngayogyakarta, beberapa tarian kerap diduplikasi sultan yang sedang berkuasa.
Tarian yang muncul periode sebelumnya, dimuncuk lagi dan disesuaikan kehendak raja yang bertahta baik ragam gerak, durasi, dan lainnya.
1. Naskah Tarian
Bedhaya Gandakusuma tertulis dalam dalam Serat Kandha Bedhaya Utawi Srimpi, berisi teks narasi dan petunjuk iringan musik gamelan untuk iringan tarian.
Sementara itu lirik vokal atau sindenan untuk mengiringi tarian tertulis dalam Serat Pasindhen Bedhaya Utawi Srimpi.
Naskah Tari Bedhaya ini telah disalin pada pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) Naskah-naskah ini sendiri merupakan milik Keraton Yogyakarta dan disimpan dalam Perpustakaan Kawedanan Widya Budaya hingga saat ini.
2. Ragam Gerak
Bedhaya Gandakusuma memiliki 5 rakit atau tata pola lantai yang memiliki makna sendiri. Rakit lajur adalah pola lantai pertama yang menggambarkan wujud jasmani manusia, digunakan oleh penari saat berbaris masuk maupun keluar dari area pementasan.
Pola lantai selanjutnya pada tari khas Yogyakarta ini adalah rakit ajeng-ajengan, yaitu formasi tiga penari di kiri dan enam penari di kanan saling berhadapan.
Pada formasi ini, penari batak dan endhel menggambarkan Retno Dumilah dan Panembahan Senopati sedang berhadapan.
Selanjutnya rakit iring-iringan, ketika penari posisi batak dan endhel saling membelakangi, kemudian diikuti posisi penari lain.
Kemudian rakit tiga-tiga yang muncul sebelum dan sesudah rakit gelar, formasinya berupa semua penari berada pada posisi berbaris.
Formasi selanjutnya adalah rakit semu gelar yang menjadi khas tarian Bedhaya Gandakusuma. Pada formasi ini, penari endel menari dalam posisi berdiri sedangkan delapan penari lain pada level rendah atau jengkeng.
Terakhir adalah rakit gelar, merupakan inti cerita yang menggambarkan peperangan antara Panembahan Senopati (penari batak) melawan Retno Dumilah (penari endel).