Selain Pemandangan Yang Indah, Lombok Punya Tradisi Yang Unik dan Beragam
- https://unsplash.com/photos/a-group-of-people-standing-around-each-other-jm63SL97dP8
Budaya, VIVA Banyuwangi – Lombok memiliki banyak budaya karena terpengaruh dari budaya Hindu-Bali, China, Arab dan Belanda.
Banyaknya pengaruh budaya itulah yang menyebabkan Lombok kaya akan tradisi. Lombok memiliki banyak masjid dan pura, tempat ibadah umat Islam dan Hindu.
Jika kamu mengunjungi Lombok, tidak hanya pemandangan saja yang bisa kamu nikmati. Namun tradisi dan seni bisa kamu kunjungi di Lombok.
1. Bau Nyale
Tradisi yang pertama yaitu festival Bau Nyale, tradisi yang dilakukan di Pantai Mandalika ini bertujuan untuk mencari cacing laut yang muncul satu tahun sekali. Tradisi ini dilakukan antara bulan Februari dan Maret.
Bau yang artinya menangkap dan Nyale yang artinya cacing laut berasal dari cerita Putri Mandalika yang harus menikah dan memilih calon pengantin. Namun ia lebih memilih menenggelamkan diri di laut dan berubah menjadi Nyale.
2. Presean
Tradisi kedua bernama Presean. Tradisi ini dilakukan oleh dua orang laki-laki yang saling menyerang dengan tongkat rotan dan perisai kulit kerbau.
Tradisi Presean bertujuan untuk meminta hujan pada saat musim tanam. Presean dapat dilihat di festival Bau Nyale.
3. Nyongkolan
Nyongkolan adalah pernikahan suku Sasak yang dilakukan di hari Sabtu dan Minggu. Prosesi ini dilakukan oleh pengantin laki-laki dan perempuan beserta keluarganya beriringan menuju rumah pengantin perempuan.
Arak-arakan ini diiringi musik tradisional seperti Gendang Beleq dan Kecimol. Tradisi Nyongkolan merupakan kebalikan dari tradisi Merarik yang menculik pengantin perempuan untuk menjadi istrinya.
4. Gendang Beleq
Gendang Beleq adalah alat musik tradisional khas Sasak, Lombok. Tradisi Gendang Beleq dilakukan oleh para penari yang menari sambil memukul Beleq yaitu sebuah drum besar.
Gendang Beleq biasanya dilakukan untuk mengiringi tari Gandrung. Tarian ini dulunya dilakukan untuk memberikan salam perpisahan bagi para tantara yang pergi berperang dan sambutan untuk tantara yang kembali pulang.
5. Male’an Sampi
Tradisi Male’an Sampi sudah ada sejak jaman penjajahan Jepang. Tradisi perlombaan sapi ini diiringi dengan alat musik tradisional seperti Tawak-Tawak, Gamelan Kampul dan Batek Baris Lingsar.