Macam Adat Jawa, Cerminan Jiwa Masyarakat yang Istimewa

ilustrasi adat jawa yang sedang berlangsung
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-orang-orang-13529791/

Budaya, VIVA Banyuwangi – Zaman digital melesat begitu cepat, ponsel bergetar lebih cepat daripada banyak orang bisa bernafas. Meski layar dan wifi mengelilingi kita, Jawa tetap berjuang membawa lagu-lagu tua ke telinga yang cenderung lebih memilih streaming.

img_title Soto Kudus, Rasa yang Menyapa dari Masa ke Masa

Cek Produk Rekomendasi Kami
Buku Kronik Perang Jawa 1825-1830 -Embrase

Buku Kronik Perang Jawa 1825-1830 -Embrase

Mulai dari

Rp.31.600

Upacara adat di pulau ini acap kali disangka museum hidup, tetapi sejatinya ia adalah napas yang terus mungguh dari satu generasi ke yang lain. Mari kita samakan langkah ke beberapa ritual itu dan lihat bagaimana jiwa masyarakat Jawa bercahaya meski smartphone bersinar jauh lebih terang.

img_title Onde-Onde, Manisnya Kebersamaan di Sore Hari

Cek Produk Rekomendasi Kami
Buku Pengetahuan Anak Muslim/ Wallisongo /Kisah Perjuangan penyebar agama islam di tanah jawa /Full Colour

Buku Pengetahuan Anak Muslim/ Wallisongo /Kisah Perjuangan penyebar agama islam di tanah jawa /Full Colour

Mulai dari

Rp.12.500

1. Sekaten, Peringatan Kelahiran Nabi yang Meriah

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Sekaten muncul dalam ingatan dengan deru gamelan Kyai Gunturmadu yang seolah berdiri di dalam dada. Tonggak perayaan ini sinkretis: ia merayakan lahirnya Nabi Muhammad SAW sambil menghidangkan jamuan dari kerajaan yang dibangun Wali Sanga. Rangkaian acaranya disekap oleh dua gunungan yang penuh beraneka rupa pertanian, dan orang berdesak-desakan bakal rebutan dengan sia-sia demi potong kecil saja.

Keberuntungan dan kesatuan rakyat menjadi pesan tersembunyi di balik hiruk pikuk itu, sekaligus untaian syukur kepada alam. Sekaten tidak lekang oleh zaman, karena pemda Yogyakarta dengan setia menjadikannya headline kalender wisata, persis seperti jet tonjok lampu sorot menuju panggung utama.

2. Siraman dan Midodareni, Persiapan Suci Menuju Pernikahan

Beberapa hari sebelum akad, calon pengantin Jawa menerima ritual Siraman. Ini jauh dari sekadar berbasuhan di kamar mandi, melainkan upacara pensucian batin dan raga. Air bunga-mawar, melati, dan kantil-dipercikkan oleh orang tua atau sesepuh, menandai restu generasi lebih tua. Seringkali air itu diambil dari tujuh sumber mata, konon Tirta Amerta, untuk melambangkan kesucian tanpa cela. Setelahnya datanglah Midodareni, malam pengasingan yang memberi ruang untuk merenung dan mempersiapkan diri. Meski setiap daerah menambahkan warna lokal, inti kesiapan fisik, mental, dan spiritual tetap dijaga oleh pasangan Jawa modern.

Halaman Selanjutnya
img_title