Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta dan Surakarta, Bisa Jadi Referensi Wisatamu!

Mubeng Beteng, Salah Satu Tradisi Malam Suro di Yogyakarta
Sumber :
  • https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/mubeng-beteng-karatan-ngayogyakarta-hadiningra

Tradisi, VIVA Banyuwangi – Tradisi malam Satu Suro menjadi sebuah adat sakral yang masih dipercaya masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta dan Surakarta. Tanggal satu Suro merupakan penanda tahun baru di penanggalan Jawa, yang bertepatan juga dengan tanggal satu Muharram di kalender Hijriyah (tahun baru Islam).

img_title Tradisi Balap Perahu Fiber di Probolinggo Kembali Digelar, 50 Peserta Lomba Ramaikan Pantai Darmo

Sebagai bulan yang istimewa, masyarakat Jawa memiliki berbagai cara untuk memaknai tahun baru Saka. Peringatan tahun baru Hijriyah di Surakarta dan Yogyakarta tidak hanya sebatas laku ritual semata, tetapi sekaligus menjadi penerus tradisi kerajaan Mataram Islam.

Kini, tradisi bulan Suro juga tak hanya jadi sebuah ritual kebudayaan saja, namun juga menjadi magnet pariwisata di dua kota tersebut. Lalu, apa saja tradisi Suro yang ada Surakarta dan Yogyakarta? Ini ulasannya.

img_title Tradisi Bungo Lado, Pohon Uang Unik Masyarakat Padang Pariaman Saat Maulid Nabi

Tradisi Malam Satu Suro di Yogyakarta

1. Jamasan Pusaka

img_title Sejarawan Sebut Perayaan 17 Agustus Rohnya Hilang! Hendi Jo Ungkap Sejarah Kelam di Balik Lomba Panjat Pinang!

Jamasan Pusaka (Siraman Pusaka) jadi tradisi malam Suro yang rutin digelar Keraton Yogyakarta untuk mensucikan benda-benda pusaka yang ada seperti kereta, tosan aji (senjata), gamelan, dan lainnya. Upacara Jamasan Pusaka ini masuk ke dalam warisan budaya tak benda yang bertujuan untuk menghormati leluhur serta merawat benda bersejarah.

Umumnya, Jamasan Pusaka diselenggarakan pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Suro (Muharram). Acara pensucian pusaka diawali dengan Jamasan Pusaka Tumbak Kanjeng Kiai Ageng Plered, kemudian dilanjutkan dengan pusaka-pusaka kuno lainnya.

2. Lampah Budaya Mubeng Beteng

Puncak tradisi malam Satu Suro yaitu Mubeng Beteng. Mubeng Beteng adalah mengitari kawasan beteng Keraton Yogyakarta dengan berlawanan arah jarum jam. Tradisi ini diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum untuk berjalan tanpa bicara (Tapa Bisu) dan tidak menggunakan alas kaki.

Makna filosofis dari tradisi Tapa Bisu ini adalah introspeksi diri dan meminta pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa. Acara Tapa Bisu dan Mubeng Beteng menjadi tradisi Suro yang dinantikan oleh banyak wisatawan baik domestik maupun asing

Sebelum pelaksanaan acara Mubeng Beteng, pihak keraton akan melakukan pembacaan doa untuk akhir tahun, doa awal tahun, serta doa bulan Suro. Selanjutnya, prosesi disambung dengan pemberian restu dari pemangku agama Keraton Yogyakarta.

Halaman Selanjutnya
img_title