Upacara Jak Bak Tuan, Tradisi Unik Menantu Berkunjung ke Mertua di Aceh

ilustrasi kebudayaan aceh
Sumber :
  • https://rri.co.id/sabang/daerah/663944/peusijuk-tradisi-warisan-leluhur-masyarakat-aceh

Budaya, VIVA Banyuwangi – Di Aceh, tradisi tak hanya hadir saat pesta pernikahan. Setelah mempelai wanita resmi menjadi istri, ada satu momen yang tak kalah istimewa “Jak Bak Tuan”, atau kunjungan pertama sang menantu perempuan (Dara Baro) ke rumah mertuanya (Linto Baro) setelah Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha.

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Cek Produk Rekomendasi Kami
KOPI GAYO ACEH GOYANG ROBUSTA

KOPI GAYO ACEH GOYANG ROBUSTA

Mulai dari

Rp.50.000

Momen ini menjadi salah satu bentuk kebahagiaan dan kebanggaan, baik bagi keluarga mempelai pria maupun wanita. Jak Bak Tuan bukan sekadar bertamu, tapi juga menjadi simbol penerimaan, silaturahmi, serta ajang pamer kemampuan keluarga dalam menyambut dan menghormati anggota baru.

img_title Entas-Entas Upacara Kematian Suku Tengger, Ritual Sakral Untuk Jiwa Yang Telah Pergi

Cek Produk Rekomendasi Kami
KOPI GAYO ACEH GOYANG ROBUSTA 250G

KOPI GAYO ACEH GOYANG ROBUSTA 250G

Mulai dari

Rp.50.000

Persiapan Dua Keluarga: Riuh Rendah Menjelang Hari H

img_title Grebeg Suran Baturraden Tradisi Banyumas yang Sarat Makna dan Warisan Leluhur

Beberapa hari sebelum hari yang ditentukan, suasana rumah Linto Baro mulai ramai. Pagar rumah dibenahi, sumur dibersihkan, rumah dipercantik, bahkan sang mertua yang biasanya jarang mandi pun mulai akrab lagi dengan sabun dan shampoo. Semua dilakukan agar ketika si menantu datang, kesan pertama rumah mertuanya tampak bersih, nyaman, dan terhormat.

Di sisi lain, keluarga Dara Baro pun tak kalah sibuk. Para ibu-ibu di kampung berkumpul membantu membuat kue-kue tradisional khas Aceh dalam jumlah besar. Mulai dari timphan, boh manok, dhoi-dhoi, bulukat tumpoe, hingga ruti bungong. Kue-kue ini akan dibawa sebagai “bungong jaroe” (buah tangan) untuk keluarga besar sang suami dan dibagikan ke tetangga, tokoh desa, hingga guru ngaji.

Hari yang Dinanti: Arak-arakan Menantu Baru

Sekitar 2 hingga 4 hari setelah Lebaran, rombongan Dara Baro pun berangkat ke rumah Linto Baro. Mereka terdiri dari para istri tokoh desa, ibu-ibu yang dituakan, gadis remaja pengiring, serta seorang Nek Peunganjo nenek pendamping yang dikenal lucu dan pandai mencairkan suasana.

Dara Baro tampil memukau. Dengan kebaya elegan, sanggul rapi, perhiasan emas lengkap, serta sepatu tumit tinggi, penampilannya harus sempurna. Tak boleh tanggung jika tidak punya perhiasan pribadi, boleh pinjam tetangga!

Sebelum berangkat, Dara Baro sungkem kepada orang tuanya sebagai simbol pamit. Payung warna-warni di tangan, ia pun melangkah mantap ke rumah mertuanya. Jika jaraknya dekat, rombongan berjalan kaki, kalau jauh, mereka menyewa mobil atau bus.

Halaman Selanjutnya
img_title