Topo Bisu Mubeng Beteng, Tradisi Sunyi Penuh Makna di Yogyakarta
- https://www.kratonjogja.id/peristiwa/1327-antusias-ribuan-masyarakat-ikuti-gelaran-mubeng-beteng-peringati-1-sura-je-1958/
Budaya, VIVA Banyuwangi – Setiap malam 1 Suro atau 1 Muharram, suasana Yogyakarta berubah menjadi hening dan khidmat. Ribuan orang berkumpul untuk mengikuti ritual Topo Bisu Mubeng Beteng, sebuah tradisi sakral yang dilakukan dengan cara berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa berbicara sepatah kata pun dan tanpa alas kaki. Tradisi ini bukan sekadar prosesi budaya, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk merenung, berdoa, dan merefleksikan diri menyambut tahun baru Jawa.
Sejarah dan Makna Topo Bisu Mubeng Beteng
Tradisi mubeng beteng sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, dan secara resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia dari DIY sejak 2015. Prosesi ini dahulu merupakan bagian dari hajad dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan kini dilanjutkan oleh masyarakat dan Paguyuban Abdi Dalem dengan dukungan Dinas Kebudayaan DIY.
Mubeng beteng atau lampah ratri ini menggambarkan laku prihatin, meniru perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW yang sarat keprihatinan. Para peserta berjalan sejauh kurang lebih 4,5 kilometer berlawanan arah jarum jam, melewati rute: Keben – Ngabean – Pojok Beteng Kulon – Plengkung Gading – Pojok Beteng Wetan – Jalan Ibu Ruswo – Alun-Alun Utara – kembali ke Keben.
Prosesi dan Suasana Khusyuk
Ritual diawali dengan pembacaan doa, tembang macapat, dan restu dari Kanjeng Kyahi Penghulu sebagai pemuka agama Keraton. Tepat pukul 00.00 WIB, bunyi lonceng 12 kali menandai dimulainya perjalanan sunyi ini. Suasana begitu senyap, hanya terdengar suara langkah kaki dan desir angin malam. Dalam keheningan inilah, peserta diajak untuk merenungkan perjalanan hidup setahun ke belakang dan memohon keselamatan serta berkah untuk tahun yang akan datang. Ribuan warga, Abdi Dalem, hingga wisatawan ikut larut dalam prosesi spiritual ini. Meski bukan bagian dari hajad resmi Keraton, namun nilai-nilai luhur di balik tradisi ini menjadikannya bagian penting dalam peradaban budaya Jawa.