Tujuh Dosa Sosial Menurut Mahatma Gandhi, Sebuah Panggilan untuk Etika dan Kemanusiaan
- Pexel/Kaiqus Lopes
Budaya, VIVA Banyuwangi – Mohandas Karamchand Gandhi atau acap kali dikenal sebagai Mahatma Gandhi. Ia adalah tokoh spiritual dan politik yang jadi simbol perjuangan kemerdekaan India melalui jalan damai tanpa kekerasan (Ahimsa).
Ia diberi gelar Mahatma pada 1914. Gandhi bukan hanya dikenal sebagai pemimpin revolusi politik, akan tetapi sebagai pemikir. Salah satu warisannya yang terkenal adalah tujuh dosa sosial, sebagai bentuk penyimpangan moral yang diyakini Gandhi dapat merusak tatanan masyarakat.
Tujuh dosa sosial itu, masih menjadi bahan perenungan yang masih relevan. Berikut ulasannya!
1. Kekayaan tanpa bekerja
Mengaju pada akumulasi materi yang tak didasari oleh usaha nyata. Fenomena ini tercermin dalam praktik rente dan tindak korupsi. Di mana kekuasaan dijadikan alat untuk memperkaya diri tanpa kontribusi produktif. Merek bersembunyi di balik ucapa untuk produktif, akan tetapi mendapat cuan dari uang hasil curian milik orang lain.
2. Kenikmatan tanpa Suara hati
Bentuk egoisme yang mengabaikan tanggung jawab sosial. Tindak-tanduk dengan gaya berlebihan, gaya hidup hedonistik para pejabat, hingga lemahnya empati terhadap rakyat, adalah maneifestasi dari dosa kenikmatan tanpa suara hati.
3. Pengetahuan tanpa Karakter
Kondisi ini menggambarkan dari pengetahuan yang kering akan nilai-nilai moral. Pendidikan yang sejatinya turut ditujukan untuk mengentaskan permasalahan bagi masyarakat yang membutuhkan. Buka hanya untuk kepentingan pribadi, alias menonjolkan individualitas.
4. Bisnis tanpa Moralitas
Ketika kekayaan adalah tujuan dari bisnis secara total, acap kali mengancam kepada kemanusiaan. Sepeti contohnya, Eksplotiasi buruh, kerusakan lingkungan hingga melakukan praktik curang. Gandhi menandaskan agar kembali kepada sifat-sifat kemanusiaan.
5. Ilmu Pengetahuan tanpa Kemanusiaan
Kelima ini hampir mirip dengan yang ketiga. Namun ini lebih menegaskan bahwa tujuan dari ilmu pengetahuan itu untuk meningkatkan kualitas hidup bagi sesaama bukan malah memperlebar antara kelompok kaya dan miskin.
6. Agama tanpa pengorbanan
Gandhi merefleksikan wajah keberagaman nan acap kali lekat dengan simbol. Banyak sekali ditemui bahwa identitas dengan penonjolan simbol agama namun lemah dalam nilai kasih sayan, keadilan dan pelayanan. Maka Gandhi menandaskan lebih dalam agar tertuju kepada yang damai dan lekat pada kemanusiaan.