Debus Kesenian Tradisional Banten yang Penuh Keberanian dan Spiritualitas

Aktivitas seni bela diri debus
Sumber :
  • https://serangkota.go.id/detailpost/debus-bela-diri-seni-dan-mistis

Budaya, VIVA Banyuwangi – Debus adalah salah satu kesenian tradisional khas dari Provinsi Banten, Indonesia. Kesenian ini dikenal karena atraksi ekstrem yang mempertontonkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam, api, bahkan air keras. Namun, di balik atraksinya yang menegangkan, Debus menyimpan nilai-nilai sejarah, spiritual, dan budaya yang sangat mendalam bagi masyarakat Banten.

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Asal Usul dan Sejarah Debus

Debus awalnya muncul sebagai media dakwah Islam di Banten. Kesenian ini berkembang pesat pada masa Sultan Ageng Tirtayasa dan digunakan untuk membangkitkan semangat juang rakyat dalam melawan penjajah Belanda. Namun, setelah kekuasaan berpindah ke Sultan Rafiudin, Debus sempat menghilang seiring melemahnya Kesultanan Banten.

img_title Entas-Entas Upacara Kematian Suku Tengger, Ritual Sakral Untuk Jiwa Yang Telah Pergi

Kesenian Debus mulai bangkit kembali sekitar tahun 1960-an dan kini berfungsi sebagai sarana hiburan budaya yang tetap mempertahankan unsur spiritual dan keagamaan.

Hubungan Debus dan Silat

img_title Grebeg Suran Baturraden Tradisi Banyumas yang Sarat Makna dan Warisan Leluhur

Debus tidak bisa dipisahkan dari pencak silat, sebab para pemain Debus umumnya berasal dari kalangan pesilat. Namun, tidak semua pesilat memiliki kemampuan menampilkan atraksi Debus, karena kesenian ini hanya dilatih dan dikembangkan di paguron (sanggar), padepokan, atau perguruan silat tertentu di Banten. Ada tiga aliran silat utama yang membentuk karakter Debus, yaitu Silat Cimande, Silat Bandrong, dan Silat Terumbu, yang masing-masing memiliki gaya, teknik, dan ciri khas tersendiri dalam mempertunjukkan kekuatan fisik dan kekebalan tubuh para pemainnya.

Perlengkapan dan Alat Musik Pengiring

Pertunjukan Debus memerlukan perlengkapan khusus yang mencerminkan identitas budaya dan mendukung kekhidmatan atraksi. Busana pemain Debus biasanya terdiri dari lomar (ikat kepala), baju kampret, dan celana pangsi, yang menjadi ciri khas pakaian pesilat Banten. Sementara itu, alat musik pengiring berbeda sesuai aliran silatnya. Untuk Debus Cimande, digunakan kendang penca yang terdiri dari tarompet, gong (kanco), kendang kemprang dan gedur, serta kulanter. Adapun Debus Bandrong dan Terumbu menggunakan patingtung, yaitu perpaduan kendang besar dan kecil, gong kecil, gong panggang, kenuk, angkeb, kecrek, dan tarompet. Beberapa pertunjukan Debus juga mengombinasikan kendang penca dengan rebana agar suasana semakin meriah dan sakral.

Halaman Selanjutnya
img_title