Upacara Unan-Unan, Tradisi Sakral Suku Tengger dalam Menjaga Keseimbangan Alam dan Spiritualitas
- https://kelanaria.com/kasada-bromo-2025-sebuah-ritual-yang-mengagumkan/
Budaya, VIVA Banyuwangi – Upacara Unan-unan adalah salah satu ritual sakral yang dilestarikan oleh masyarakat Suku Tengger di kawasan lereng Gunung Bromo. Tradisi ini merupakan bagian dari sistem penanggalan Jawa-Kuno yang menggabungkan kalender Surya (matahari), Candra (bulan), dan siklus wuku. Dilaksanakan setiap lima tahun sekali, Unan-unan menjadi momen penting untuk menyeimbangkan peredaran bulan dan matahari dalam sistem tahun Saka, sekaligus bentuk permohonan penyucian diri, desa, serta keselamatan semesta.
Makna Unan-unan dalam Kalender dan Spiritualitas
Istilah "Unan-unan" berasal dari kata "una" dalam bahasa Jawa Kuna yang berarti "mengurangi". Dalam konteks kalender Saka, Unan-unan merujuk pada pengurangan satu bulan atau nguna sasi untuk menyelaraskan siklus bulan yang lebih pendek sekitar 354 hari dengan siklus matahari 365 hari. Penyesuaian ini dilakukan agar waktu perayaan dan ritual besar tetap sesuai dengan perubahan musim dan peredaran alam.
Namun, Unan-unan bukan sekadar koreksi kalender. Ritual ini sarat makna spiritual dan kosmologis. Masyarakat Tengger meyakini bahwa dalam tahun landhung, tahun dengan 13 bulan terjadi ketidakseimbangan alam. Karena itu, selama tahun ini, berbagai ritual pribadi seperti mendirikan rumah, memanggil roh leluhur (walagara pungaran), atau upacara penyucian jiwa (entas-entas) dilarang. Sebagai gantinya, Unan-unan menjadi satu-satunya ritual besar yang dilaksanakan untuk membersihkan desa dari energi negatif, mengusir gangguan makhluk halus (butakala), dan memohon keselamatan bersama.
Rangkaian Prosesi Unan-unan
Puncak Upacara Unan-unan dilakukan di Sanggar Punden, tempat keramat di tengah desa. Prosesi ini melibatkan sesaji khusus yang dinamakan "Kalan", yaitu daging kerbau yang dikorbankan sebagai simbol pemurnian. Dalam tradisi Jawa Kuna, kerbau adalah hewan suci tunggangan Batara Yama, dewa keadilan, yang merepresentasikan kekuatan dan keberkahan. Korban kerbau mencerminkan penyerahan total kepada Tuhan agar desa kembali suci dan terhindar dari bencana.
Pandita Dukun pemimpin spiritual dalam masyarakat Tengger—akan membacakan mantra suci yang terdiri dari delapan bagian atau lanjaran, diawali dengan "Hong Pukulun" dan ditutup "Pinika Pukulun". Mantra ini memohon pembersihan jiwa dan raga, keselamatan dunia, dan pengampunan bagi arwah leluhur agar mereka mencapai Nirwana alam suci tempat atma yang telah bebas dari karma buruk.