Mengenal Suku Tengger dan Gunung Bromo, Warisan Budaya di Puncak Jawa Timur
- https://nahwatour.com/pesona-tradisi-tengger-dengan-paket-wisata-bromo
Budaya, VIVA Banyuwangi – Gunung Bromo bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata favorit di Jawa Timur, tetapi juga sebagai pusat kehidupan spiritual dan budaya bagi masyarakat Suku Tengger. Terletak di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, gunung berapi aktif ini membentang di empat wilayah administratif yaitu Kabupaten Malang, Probolinggo, Lumajang, dan Pasuruan. Dengan kaldera raksasa dan lautan pasir yang eksotis, Gunung Bromo menjadi simbol keagungan alam sekaligus pusat kosmologi bagi Suku Tengger.
Filosofi dan Persebaran Suku Tengger
Suku Tengger memiliki persebaran yang unik di empat kabupaten, menggambarkan konsep spiritual Jawa kuno "kiblat papat limo pancer" yang memiliki arti empat arah penjuru dunia dengan Gunung Bromo sebagai pusatnya (pancer). Titik-titik penting komunitas ini antara lain Tosari (Pasuruan), Sukapura (Probolinggo), Ngadas (Malang), dan Ranupane Senduro (Lumajang).
Awal Mula Suku Tengger
Menurut legenda setempat, asal-usul Suku Tengger bermula dari pasangan Rara Anteng, putri Kerajaan Majapahit, dan Jaka Seger, keturunan brahmana dari Kediri. Keduanya bermukim di kawasan Pananjakan dan menjadi leluhur masyarakat Tengger. Setelah bertapa memohon keturunan, mereka mendapatkan 25 anak, namun dengan syarat anak bungsu R. Kusuma harus dikorbankan ke kawah Bromo.
Saat janji itu diingkari, kawah Bromo mengamuk dan menuntut pengorbanan. R. Kusuma akhirnya mengorbankan dirinya dan berpesan agar keturunannya hidup rukun serta setiap tanggal 14 bulan Kasada, masyarakat mempersembahkan sesaji ke kawah sebagai bentuk syukur. Inilah cikal bakal Upacara Yadnya Kasada yang masih dilakukan hingga kini.
Struktur Sosial dan Nilai Budaya
Gunung Bromo menjadi pusat interaksi sosial Suku Tengger. Setiap tahun, mereka berkumpul di kawasan ini untuk beribadah dan memperkuat hubungan kekeluargaan. Falsafah hidup mereka mencakup nilai luhur seperti setya budaya (taat dan mandiri), setya wacana (setia ucapan), dan setya mitra (kesetiaan terhadap sesama).
Masyarakat Tengger mayoritas menganut agama Hindu Tengger, sebuah bentuk Hindu yang masih mempertahankan tradisi Majapahit tanpa sistem kasta. Mereka mengenal Padmasari (tempat pemujaan di depan rumah) dan Padmasana (tempat ibadah di pura desa).