Tedhak Siten, Warisan Budaya Jawa Tentang kehidupan Seorang Anak
- https://www.kratonjogja.id/peristiwa/107-upacara-tedhak-siten-rm-suryonegoro-putra-pertama-gkr-hayu-dan-kph-notonegoro/
Budaya, VIVA Banyuwangi – Indonesia adalah negeri yang kaya akan tradisi dan budaya, salah satunya adalah Tedhak Siten, sebuah upacara adat Jawa yang menggambarkan peralihan penting dalam kehidupan seorang anak. Tradisi ini menjadi penanda bahwa sang anak mulai memasuki fase baru dalam hidupnya yakni pertama kalinya menginjakkan kaki ke tanah. Tedhak Siten bukan sekadar seremonial, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang menyimbolkan tuntunan orang tua dalam mendampingi sang anak meniti perjalanan hidupnya.
Tedhak Siten biasanya dilaksanakan ketika seorang bayi menginjak usia 7 lapan dalam kalender Jawa atau sekitar 8 bulan dalam kalender Masehi. Di usia ini, bayi biasanya sudah mulai belajar berdiri dan berjalan. Tradisi ini banyak ditemukan di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian besar wilayah Jawa Timur, dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai tradisional dan spiritual.
Makna di Balik Nama Tedhak Siten
Secara etimologis, kata "tedhak" berarti turun atau menapakkan kaki, dan "siten" berasal dari kata "siti" yang berarti tanah. Maka secara keseluruhan, Tedhak Siten berarti turun ke tanah sebuah simbol bahwa sang anak telah siap berinteraksi dengan dunia luar, dengan bumi tempat manusia berpijak. Tradisi ini juga diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada bumi, sekaligus wujud syukur kepada Tuhan atas pertumbuhan sang anak.
Bagi masyarakat Jawa, tanah memiliki dimensi yang lebih dari sekadar elemen alam. Tanah dianggap memiliki kekuatan gaib, dan prosesi ini juga diyakini sebagai momen memperkenalkan si kecil kepada semesta secara spiritual agar mendapat perlindungan dan berkah dalam hidupnya kelak.
Rangkaian Prosesi Tedhak Siten dan Maknanya
Upacara Tedhak Siten terdiri dari beberapa tahapan simbolik yang kaya akan makna kehidupan. Prosesi diawali dengan memandikan anak menggunakan air bunga setaman yang telah diembunkan semalaman. Air ini diambil khusus pada malam hari dan dicampur dengan bunga-bunga seperti mawar, melati, dan kenanga. Tujuannya adalah untuk membersihkan lahir dan batin sang anak agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang harum, menyejukkan, dan membawa kebanggaan bagi keluarga. Setelah itu, anak dituntun menapaki tujuh buah jadah berwarna merah, putih, kuning, hijau, biru, merah jambu, dan ungu. Angka tujuh dalam bahasa Jawa berarti "pitulungan" atau pertolongan Tuhan, sementara setiap warna menyimbolkan nilai kehidupan seperti keberanian, kesucian, kekuatan, hingga cinta kasih dan kesempurnaan.