Mandui Safar dan Simah Laut, Perpaduan Ritual Bulan Safar dan Pariwisata Asal Kotawaringin Timur
- https://mmc.kalteng.go.id/berita/read/272/
Budaya, VIVA Banyuwangi – Setiap Rabu terakhir di bulan Safar, tepian Sungai Mentaya di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, berubah menjadi panggung kebersamaan antara keyakinan tradisi dan kegembiraan warga. Tradisi Mandi Safar atau Mandui Safar telah lama menjadi ritual rutin yang dilakukan masyarakat setempat sebagai bentuk tolak bala.
Membilas diri ke sungai sebagai simbol membersihkan diri dari pengaruh negatif. Dari ritual adat hingga rayakan festival budaya, tradisi ini kini telah dimodernisasi dan dikemas sedemikian rupa menjadi atraksi pariwisata yang menarik ribuan pengunjung tiap tahun.
Penyelenggaraan Mandui Safar dipimpin tokoh adat, diawali dengan pembacaan doa bersama dan ritual mengikat daun sawang yang telah dirajah sebagai pelindung peserta. Setelah rangkaian persiapan, ribuan warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan pejabat daerah, secara serempak mencebur diri ke Sungai Mentaya di Dermaga Habaring Hurung. Acara ini juga menyajikan bazar kue tradisional, lomba melukis dan mewarnai, fashion show, tari daerah, hingga doorprize menarik bagi peserta mandi.
Mandui Safar bermula dari tradisi masyarakat tepian Sungai Mentaya yang meyakini bulan Safar membawa berbagai bala. Ritual mandi sungai pada hari Arba Musta’mir (Rabu terakhir).
Kini Mandui Safar tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tapi juga event budaya yang dipromosikan oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari destinasi wisata Kalteng. Sejak diresmikan oleh pemerintah setempat, tradisi ini semakin dikenal luas dan konsisten mendatangkan warga lokal, peziarah, hingga wisatawan dari luar wilayah.
Tak hanya Mandui Safar, Kabupaten Kotawaringin Timur juga mengembangkan tradisi Simah Laut, yang dilaksanakan di Pantai Ujung Pandaran sekitar akhir November. Ini adalah ritual larung miniatur perahu kayu berisi 41 jenis kue tradisional dan ketan, disertai doa bersama oleh alim ulama untuk keselamatan nelayan dan keberkahan laut.
Simah Laut kini menjadi salah satu agenda pariwisata andalan Kab Kotim, sekaligus memperkuat budaya nelayan lokal yang sejak dulu mengandalkan laut sebagai sumber rezeki. Pemerintah daerah secara aktif menjadikan kedua tradisi ini sebagai daya tarik wisata.