Jaran Kepang, Tarian yang Menggabungkan Seni dan Spiritualitas

Pertunjukan Tarian Jaran Kepang
Sumber :
  • https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/62/Kuda_Lumping_1.jpg

Budaya, VIVA Banyuwangi – Jaran kepang adalah salah satu kebudayaan Indonesia, atau lebih spesifik suku Jawa.  Tarian ini memiliki Sejarah yang Panjang dan kaya, serta mempunyai makna yang mendalam, khususnya bagi Masyarakat Jawa. 

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Sejarah Jaran Kepang

Jaran kepang dalam beberapa istilah disebut juga kuda lumping atau jathilan. Tarian ini dipercaya telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit, yaitu pada abad ke-14. Pada saat itu, Jaran Kepang digunakan sebagai sarana untuk menghibur raja dan bangsawan , namu sejalan dengan perkembangannya, tarian ini digunakan untuk mengungkapkan perasaan ataupun emosi. Tarian Jaran Kepang  memadukan tarian, musik gamelan, properti kuda dari anyaman (kepang), dan yang paling memikat perhatian adalah unsur trance (kesurupan) yang menghadirkan aura mistik sekaligus kekuatan komunal.

img_title Khofifah Ajak Generasi Muda Jadikan Batik Simbol Gaya Hidup Berbudaya

Meski tampil sebagai tontonan rakyat, Jaran Kepang memuat lapisan makna: sejarah, spiritualitas, hingga negosiasi identitas di tengah perubahan zaman. Tidak ada versi  tunggal mengenai asal-usl jaran kepang. Ada beberapa pendapat, bahwa tarian Jaran Kepang adalah latihan perang oleh prajurit berkuda  yang disamarkan. Selain itu adap pula yang menafsirkan bahwa pada jaman kolonial , rakya tidak berani menunggang kuda, hingga kuda dari anyaman, dijadikan symbol perlawanan pada penjajah Ketika pertunjukan rakyat (Kemdikbud, 2019). Nuansa heroik sekaligus satir tersebut kemudian dibingkai ulang menjadi tari kerakyatan yang lentur dan mudah dirayakan bersama.

Ritual dan Trance, antara Sakral dan Spektakel

img_title Entas-Entas Upacara Kematian Suku Tengger, Ritual Sakral Untuk Jiwa Yang Telah Pergi

Elemen ritual lazim mendahului pementasan mulai dari doa, sesaji, hingga syarat-syarat adat, sebagai permohonan keselamatan. Dalam fase klimaks, sebagian penari mengalami trance: memakan beling, kebal terhadap cambuk, atau menirukan gerak hewan (kuda, kera, harimau). Tradisi ini oleh sebagian komunitas dipahami sebagai medium komunikasi dengan leluhur atau alam gaib, sekaligus bentuk tolak bala.

Pada jaman modern untuk aspek trance, di negosiasikan sebagai tarian dan hiburan. Sementara untuk bagian tarian lain, tetap sesuai dengan ritus dan makna pertunjukan. Perubahan orientasi ini memperlihatkan bagaimana Jaran Kepang terus beradaptasi dengan selera penonton, kebijakan lokal, dan pertimbangan keamanan tanpa kehilangan ruh komunalnya Badan Bahasa, 2025).

Halaman Selanjutnya
img_title