Tradisi Bungo Lado, Pohon Uang Unik Masyarakat Padang Pariaman Saat Maulid Nabi

Salah satu tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad, Bungo Lado
Sumber :
  • Instagram @jasmiinaislamicschool

Tradisi, VIVA Banyuwangi –Setiap daerah memiliki cara khas tersendiri untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi Muhammad SAW sendiri adalah momen atau peringatan untuk memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni pada setiap Bulan Rabiul Awwal.

img_title Bulog Distribusi Pasokan Beras ke Daerah Terisolasi di Aceh, Sumbar dan Sumut Melalui Jalur Udara

Salah satunya adalah Tradisi Bungo Lado yang dilaksanakan oleh masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, sebuah ritual unik yang melibatkan pohon hias berdaun uang.

Tradisi turun-temurun ini lebih dari simpol perayaan, namun juga sarana kebersamaan dan wadah beramal. Melalui Tradisi ini, masyarakat akan menyumbangkan sebagian uang untuk pembangunan serta kesejahteraan sosial.

img_title Bantuan Presiden Prabowo Tiba, Pemprov Sumbar Pastikan Langsung Disalurkan

Pohon Uang sebagai Simbol Kebahagiaan

Secara harfiah, “Bungo” berarti bunga dan “Lado” berarti cabai. Namun, dalam tradisi ini, Bungo Lado direpresentasikan dalam bentuk pohon uang, ranting pohon yang dihiasi dengan lembaran uang kertas mulai dari Rp1.000 hingga Rp100.000.

img_title Akibat Bencana Banjir dan Longsor, BNPB Sebut Ada 23 Meninggal dan 3.900 Keluarga Mengungsi di Sumatera Barat

Pohon uang ini disusul dari hasil iuran masyarakat setempat. Semakin besar jumlahnya, semakin megah pula pohon Bungo Lado yang dibuat. Uniknya, sebelum ditempatkan di masjid, pohon uang ini biasanya diarak keliling kampung sebagai tanda suka cita menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dari satu pohon saja, dana yang terkumpul bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Seluruh uang yang dipasang di ranting pohon kemudian disumbangkan untuk pembangunan dan pemeliharaan masjid tempat tradisi digelar.

Nilai Sosial, Ekonomi, dan Religius dalam Tradisi Bungo Lado

Tradisi Bungo Lado ini bukan sekedar ritual budaya belaka. Tradisi ini sarat akan makna. Dari sisi sosial, ia mempererat tali silaturahmi, gotong royong, serta solidaritas masyarakat. Dari aspek ekonomi, tradisi ini menjadi bentuk nyata infak dan sedekah untuk kepentingan bersama, khususnya pembangunan sarana ibadah.

Sementara dari sisi agama, Bungo Lado dimaknai sebagai wujud ajaran Islam untuk fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 148.

Tak heran jika tradisi ini terus dilestarikan hingga kini, karena bukan hanya meriah secara budaya, tetapi juga menghidupkan semangat kebersamaan dan amal di tengah masyarakat.