3 Cara Stoic Menemukan Tujuan Hidup, Apa Makna Kehidupanmu?

Cara Stoic Menemukan Tujuan Hidup
Sumber :
  • Photo by Elina Sazonova: https://www.pexels.com/photo/calm-woman-in-white-dress-sitting-on-pier-of-lake-4332154/

Filosofi, VIVA Banyuwangi – "Apa makna kehidupan?" Pertanyaan ini sangat manusiawi, namun juga terkesan arogan. Ibarat pergi wawancara kerja dan menuntut apa yang bisa mereka berikan kepada Anda, bukan menunjukkan mengapa Anda cocok untuk posisi itu.

Maksimalkan Ramadan! Amalan Sunnah yang Dianjurkan untuk Raih Keberkahan

Dunia mengajukan pertanyaan dan dunia tidak peduli apa yang Anda harapkan darinya. Kabar baiknya bagi kaum Stoik: makna sejati bukan dari apa yang dunia berikan, tetapi bagaimana Anda meresponsnya. Fokus pada apa yang pantas Anda dapatkan dari dunia tidak akan membantu menemukan tujuan dan hanya akan berakhir kecewa.

Stoikisme mengajarkan untuk berhenti mengajukan pertanyaan dan fokus pada tugas-tugas yang disajikan oleh kehidupan. Makna hidup ditemukan saat kita menghadapi tantangan kehidupan, termasuk yang paling berat.

Puasa Lancar, Badan Bugar: Tips Jitu Tetap Fit Selama Ramadan

Ada tiga cara untuk melakukannya: MENCIPTAKAN sesuatu dari apa yang dunia berikan, MERAWAT orang-orang yang hadir dalam hidup kita, dan MENAKLUKKAN penderitaan yang tak terhindarkan.

Dalam artikel ini kita akan membahas tiga cara stoic untuk menemukan tujuan dan makna hidup sebenarnya, simak artikel berikut ini sampai habis:

1. Menghasilkan Karya

Ramadan Hemat! Tips Jitu Atur Keuangan, Dijamin Anti Boros

Kita tidak bisa memilih apa yang dunia berikan untuk kita olah, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita menggunakannya, membentuknya, mengaturnya, dan membangunnya.

Anda tidak harus menjadi yang terbaik dalam sesuatu untuk menemukan tujuan dan kegembiraan di dalamnya. Nenek moyang kita zaman dahulu menemukan kepuasan dalam membuat sesuatu dari batu, sama seperti Leonardo da Vinci mendapatkan kepuasan dari melukis Mona Lisa.

Menemukan makna dalam hidup melalui pekerjaan, seni, menulis, memperbaiki diri, hobi, dan bahkan tugas-tugas sepele adalah bentuk menciptakan. Setiap tantangan yang melibatkan penggunaan lingkungan sekitar Anda, membuat hal-hal baru, atau memperbaiki sesuatu adalah kesempatan untuk menemukan tujuan  terlepas dari apakah itu glamor atau tidak.

2. Kepedulian terhadap Sesama

Sumber makna ini paling mudah dipahami, karena tertanam dalam pengalaman menjadi manusia. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menemukan tujuan hidup dengan merawat orang lain; baik sebagai teman, guru, orang tua, pemimpin, atau bahkan sebagai pendukung anonim.

Kegembiraan merawat orang lain tidak hanya terbatas pada hubungan langsung dengan orang-orang. Makna semacam ini juga dapat diwujudkan dengan melibatkan diri dalam tujuan dan amal, membantu kelompok dan organisasi, dan menjalani hidup Anda dengan cara yang akan membantu orang lain ketika Anda telah tiada.

3. Menghadapi Penderitaan yang Tak Bisa Dihindari dengan Tegar

Hal utama yang perlu dipahami: Stoikisme tidak mengajarkan bahwa penderitaan adalah prasyarat untuk menemukan makna dalam kehidupan. Jika penderitaan dapat dihindari, maka hindarilah.

Namun, ketika penderitaan tak terhindarkan, kita dapat menemukan makna yang mendalam dalam cara kita menghadapinya, atau "menaklukkannya." Ketika dunia melimpahkan tantangan yang berat, kita dapat menjadikannya kesempatan untuk menunjukkan keberanian dan keteguhan.

Ingatlah bahwa "menaklukkan" penderitaan tidak selalu berarti menghilangkannya. Kita dapat "menaklukkan" penderitaan, disabilitas, dan bahkan kematian melalui sikap kita dalam menghadapinya. Penderitaan tak terhindarkan—baik dari penyakit, kecelakaan, usia lanjut, atau kehilangan akan datang menghampiri kita semua.

Pada saat itu tiba, kita dapat menemukan tujuan dengan menerima bahwa menghadapi penderitaan adalah tugas unik kita. Melalui cara kita menanggungnya, kita dapat mendefinisikan diri kita sendiri dan memberikan teladan bagi orang lain.

Dengan memahami dan menerapkan ketiga cara Stoic ini, kita dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam dan otentik. Bukan dari apa yang dunia berikan, melainkan dari bagaimana kita merespons dan berkontribusi kepada dunia.

Mari kita berhenti mencari makna di luar diri, dan mulai menciptakannya melalui tindakan nyata, kepedulian tulus, dan keteguhan menghadapi tantangan.