Mulutmu Harimaumu! Hati-Hati Candaanmu Bisa Jadi Bully!
- https://www.freepik.com/free-photo/person-suffering-from-bullying_20146576.htm
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Pernah nggak sih, kamu dibilang, “Ih, kamu gendutan, ya sekarang?” atau “Jomblo mulu, kasihan amat!” sambil disertai tawa dan tepuk bahu seolah semuanya biasa saja? Ya, mungkin maksudnya hanya bercanda. Tapi, pernahkah terpikir bahwa kalimat itu bisa menyakitkan seseorang?
Di zaman sekarang, kita makin sadar bahwa bullying nggak selalu berupa kekerasan fisik. Kadang bullying secara tidak langsng justru lewat kata-kata yang dibalut tawa. Mirisnya, banyak yang nggak sadar bahwa candaannya bisa melukai hati seseorang. Parahnya lagi bisa berunjuk tindakan kriminal.
Candaan Verbal vs Bullying, Tipis Banget Bedanya
Banyak dari kita menganggap bahwa kalau niatnya bercanda, ya sah-sah aja. Tapi faktanya, bullying verbal sering bersembunyi di balik kalimat yang “katanya lucu sekali”. Saat candaan itu terus-menerus menyasar sisi lemah atau kekurangan seseorang, maka itu bukan lagi lelucon itu adalah bentuk perundungan secara halus.
Perbedaan antara candaan sehat dan bullying verbal kadang cuma soal empati. Kalau yang kita ajak bercanda ketawa tulus, ya mungkin memang nggak masalah. Tapi kalau mereka cuma nyengir kaku atau langsung diam, itu sinyal kuat bahwa kita sudah keterlaluan.
Candaan Sepele yang Ternyata Menyakitkan
Beberapa contoh “candaan” yang sering dianggap normal tapi sebenarnya menyakitkan, sebagai berikut:
- “Kok kulitmu makin gelap sih, liburan di tambang ya?”
- “Kamu cantik… tapi kalau kurusan dikit sih.”
- “Makanya jangan jomblo terus, nanti jadi perawan tua lho.”
- “Pasti broken home, kelakuannya beda gitu.”
- “Kamu cowok, kok nangis sih? Lemah banget!”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar ‘biasa’ di tongkrongan. Tapi bagi yang mendengarnya, itu bisa jadi sumber rasa minder, overthinking, atau bahkan trauma. Kita tidak pernah tahu kondisi psikis seseorang.
Kenapa Kita Sering Gak Sadar?
Di Indonesia, budaya “yang baper berarti kalah” masih cukup kuat. Orang yang menegur kita karena sakit hati dianggap nggak punya selera humor sama sekali. Padahal, kita semua punya batasan berbeda soal bercanda. Apa yang lucu buatmu, belum tentu lucu buat orang lain.