Sedotan Bambu Bisa Jadi Solusi Pengurangan Sampah Plastik
- https://www.freepik.com/free-photo/leaves-eco-friendly-environment-bamboo-tube-straws_11299749.htm
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Penggunaan plastik sudah sangat berlebihan di bumi. Sehingga kita harus mulai mengurangi penggunaan plastik.
Penggunaan sedotan plastik bisa di ganti dengan sedotan bambu yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini terbukti dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
Penggunaan plastik terbukti menambah sampah dan jika dibuang sembarangan bisa mencemari lingkungan laut.
“Banyak orang di hotel yang tidak ingin minum dari sedotan plastik sehingga mereka lebih memilih sedotan bambu, mereka berkata sedotan plastik bisa mengganggu kesehatan” kata Robin Naiding, Kepala Desa di Desa Baga Dima, perbukitan di timur laut India.
Kebutuhan sedotan yang semakin meningkat terutama disebabkan karena setiap membeli minuman, masyarakat banyak yang menggunakan sedotan.
Meskipun begitu penggunaan sedotan bambu masih tergolong sedikit, hal itu wajar karena harganya yang bisa mencapai Rp 2.000 per buah.
Sedotan bambu bisa digunakan berkali-kali dengan perawatan yang mudah yaitu dikukus selama 15 menit. Namun sedotan bambu tidak dianjurkan untuk dibersihkan dengan sabun karena bisa menyebabkan tumbuhnya jamur.
“Sedotan bambu tidak hanya efektif sebagai pengganti sedotan plastik namun sedotan bambu bisa menghemat biaya, ramah lingkungan dan lebih memiliki nilai estetika” kata Ravi Kiran, pendiri Bambugo yang produknya sudah tersebar di Delhi, Chennai dan Bangalore, India.
Untuk memproduksi sedotan bambu, langkah awal yang harus kita lakukan adalah mencari bahan dasar bambu yang masih hijau lalu dijemur kurang lebih satu minggu.
Setelah bambu berwarna kuning kecoklatan, bambu dipotong dengan bor listrik sepanjang 15 cm. Bambu di kikis bagian luar dan dalamnya kemudian di amplas agar halus. Terakhir, bambu dibersihkan agar dapat digunakan.
Untuk menyimpan sedotan bambu, sebaiknya diletakkan bersamaan dengan silica gel agar tidak tumbuh jamur dan letakkan di wadah yang tertutup rapat.
“Banyak barang dijual di toko yang berbahan dasar plastik sehingga sulit untuk menghentikan masyarakat menggunakan plastik” kata Naiding.