Memahami Brexit Beserta Dampaknya Bagi Inggris
- https://www.pexels.com/photo/london-cityscape-460672/
Britania Raya, VIVA Banyuwangi – Hampir satu dekade telah berlalu sejak kata "Brexit" mulai mendominasi judul berita. Lebih dari sekadar perceraian politik, keputusan ini memicu gejolak ekonomi, dan menantang definisi identitas nasional. Dari janji-janji yang menggebu-gebu hingga realitas yang kompleks, perjalanan Brexit adalah studi kasus tentang dampak mendalam ketika sebuah negara memilih jalannya sendiri di panggung global.
Brexit mengacu pada langkah Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Istilah ini merupakan gabungan dari kata "Britain" dan "Exit."
Ide untuk mendiskusikan secara resmi mengenai kelanjutan dari keanggotaan Uni Eropa sudah muncul semenjak 2013 oleh Perdana Menteri yang menjabat, David Cameron. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya suara untuk meninggalkan Uni Eropa dari partai Konservatif Inggris.
Referendum pun secara resmi terjadi pada 23 Juni 2016, dengan pertanyaan utama “Haruskah Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa, atau meninggalkannya.” Sebanyak 51.89% suara memilih untuk meninggalkan keanggotaan tersebut. Proses pelepasan ini pun secara resmi selesai pada 31 Januari 2020.
Selama tahun 2020 tersebut, Inggris masuk ke dalam masa transisinya. Dalam masa tersebut, masih belum terjadi banyak perubahan dan Inggris pun masih mematuhi aturan-aturan dari Uni Eropa. Kedua belah pihak pun masih melakukan negosiasi mengenai hubungan baru mereka.
Langkah Brexit ini didasari pada ketidakpuasan Inggris terhadap perlakuan Uni Eropa selama satu dekade sebelumnya. Mulai dari kemakmuran, perlindungan hukum dari aksi kriminal, hingga terorisme.
Selain itu, Inggris pun belum sepenuhnya pulih dari resesi yang terjadi di tahun 2008. Hal ini membuat banyak warga Inggris menjadi semakin tidak senang, tidak merasa dianggap dalam kerja politik, dan merasa dihapus dalam kehidupan bermasyarakat. Uni Eropa menjadi pihak yang bertanggungjawab atas hal ini.
Imigrasi juga memainkan peran dalam Brexit. Kekacauan politik, konflik, dan semakin menghilangnya pengaruh politik di Timur Tengah meningkatkan imigrasi ke Eropa. Banyak warga negara Eropa yang menyalahkan pemerintahan setempat gagal menghadapi masalahnya dengan baik.