Alasan Orang Mempercayai Uang, Begini Kata Yuval Noah Harari
- https://www.ted.com/talks/yuval_noah_harari_the_actual_cost_of_preventing_climate_breakdown
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Setiap detik waktu terus bergerak, sebuah adagium muncul ‘waktu adalah uang’. Narasi itu membersamai manusia di setiap aktivitasnya. Munculnya uang diharapkan sebagai bayaran setimpal atas apa yang manusia kerjakan.
Lalu, kita kemudian terbesit, mengapa kita begitu mempercayai uang? Bagaimana uang bisa mengerat kita? Pertanyaan itu kemudian muncul mengajak perenungnya menemukan setitik jawaban. Adalah uang dapat membeli segalanya –bila mencukup.
Seorang sejarawan bernama Yuval Noah Harari memberi tahu bagaimana kita mempercayai uang, dan mengapa uang itu jadi kebutuhkan primer melebih apapun.
Sebuah buku gubahan Yuval berjudul Money (Global Indo Kreatif, 2020) memberi tahu kita penyebab manusia mempercayai uang. Beriktu ulasannya!
1. Uang dan kesepakatan psikologis
Yuval menyodorkan beberapa refernsi penting, mula buka uang digunakan dan menjadi dambatan setiap manusia. Uang itu memang berguna untuk mendapatkan sebuah barang. Itu fakta! Lalu?
Yuval memulainya dengan kisah ‘Kerang dan Rokok’. Jauh hari sebelum emas, perak dan permata muncul, selama kurang lebih empat ribu tahun, daratan Afrika menggunakan kerang kuwuk sebagai alat tukar. Kok bisa? Sebentar.
Kemudian saat meletup perang dunia ke-II, kamp-kamp tahanan modern memiliki cara tersendiri dalam membaca uang. Ya! Para tawanan memiliki alat tukar bernama rokok. Kebutuhan primer di penjara waktu itu ialah gandum atau roti. Yuval mencontohkan mekanisme bagaimana uang bekerja di penjara Aushwitch yang kejam.
Ribuan tahanan berjejal-jejal di tahanan. Rokok didapatkan dari lalu lalang yang santer. Agar mereka tetap hidup meskipun dalam kelaparan akut. Rokok itu menjadi alat tukar guna menebus gandum. Kata Yuval, selembar roti seharga 12 batang rokok, satu paket margarin kiranya tiga ons seharga tiga puluh batang rokok dan jam tangan untuk menilik waktu seharga 200 batang rokok.
Yuval menandaskan bahwa uang itu revolusi mental. Mereka umenciptakan kesepakatan intersubjektif menyetujui imaji tentang yang berharga.
2. Uang dan Tetek Bengeknya