Mengapa Bumerang Bisa Kembali Lagi Saat Dilempar?
- https://images.app.goo.gl/Wk3eWkB1knioBc217
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Bumerang dan Presesi Giroskopik
Bumerang kembali berkat fisika yang disebut “presesi giroskopik.”. Presesi giroskopik adalah gaya yang dihasilkan oleh benda yang berputar seperti roda sepeda.
Jika kita membayangkan roda sepeda yang berputar dan digantung di langit-langit, roda tersebut akan menghasilkan gaya yang disebut “torsi” di sepanjang porosnya. Torsi dan berat roda tersebut menyebabkan roda berputar di sekitar sumbu vertikal, dan putaran itulah yang kita sebut presesi giroskopik.
Bumerang bekerja dengan cara yang sama seperti roda sepeda yang digantung. Daya angkat yang dihasilkan oleh bentuk sayap yang seperti airfoil memiringkan bumerang saat terbang, dan presesi giroskopik menyebabkan bumerang berputar. Bersama-sama, kedua hal ini membuat bumerang terbang melingkar.
Bentuk Bumerang
Bentuk bumerang berperan besar dalam membuatnya kembali. Bumerang yang kita kenal adalah bentuk lengkung sederhana dengan dua lengan. Kedua lengan ini bisa berukuran apa saja, asalkan bentuknya tepat dan disatukan pada sudut sekitar 60 hingga 80 derajat.
Setiap lengan bumerang memiliki bentuk yang sama dengan sayap pesawat (aerofoil). Bentuk aerofoil memungkinkan pesawat terbang, dan merupakan salah satu alasan bumerang kembali saat dilempar. Bentuk aerofoil seperti oval yang diregangkan, tetapi sisi bawahnya lebih datar dan sisi atasnya lebih melengkung. Saat aerofoil bergerak, ia membelah udara yang dilewatinya.
Udara yang bergerak di atas tepi aerofoil bergerak lebih cepat dan memiliki kepadatan yang lebih rendah daripada udara di bawah sayap, ini memungkinkan sayap terdorong ke atas menjauh dari tanah. Pada saat yang sama, udara yang lewat di bawah sayap dibelokkan dan didorong ke bawah. Bersama dengan udara bertekanan rendah di atas sayap, kedua hal ini menciptakan “daya angkat” dan memungkinkan pesawat dan bumerang terbang di udara.