Pat McGrath di Dunia Kecantikan
- https://www.harpersbazaar.com/it/bellezza/make-up/a61981069/intervista-pat-mcgrath-makeup/
Pat McGrath Labs tidak datang dengan sunyi. Ia hadir di gerai Sephora dengan kemasan emas mencolok, palet eyeshadow berpigmen ekstrem, dan kemasan produk yang menyerupai karya seni. Lini ikonisnya “Mothership” dijual dengan harga premium namun ludes dalam hitungan jam.
Setiap produknya adalah perpaduan antara tekstur dan drama: eyeshadow yang meluncur seperti sutra, highlighter berkilau seperti logam cair. Namun lebih dari sekadar makeup, McGrath mengusung filosofi kecantikan yang demokratis. “Kecantikan seharusnya milik semua orang,” katanya kepada Vogue. “Bukan hanya mereka yang elite, bukan hanya satu tipe wajah.”
Kini, merek tersebut bernilai lebih dari $1 miliar, menjadikannya salah satu wirausaha kulit hitam paling sukses di industri kecantikan.
Pengaruh McGrath melampaui sekadar riasan. Ia menjadi simbol representasi dalam industri yang selama ini kurang inklusif. Ia adalah makeup artist pertama yang dianugerahi gelar Dame Commander of the British Empire oleh Ratu Elizabeth II pada tahun 2021 pencapaian luar biasa bagi perempuan kulit hitam dari keluarga kelas pekerja.
Ia juga dikenal karena menyuarakan keberagaman sejak awal, menampilkan model transgender, non-biner, serta berbagai warna kulit sebelum ‘inklusivitas’ menjadi kata kunci industri. “Melihat orang yang mirip denganku tampil glamor di iklan cantik, kuat itulah yang dulu kuimpikan,” ucapnya. “Jadi, aku menciptakannya sendiri.”
Meskipun kini terkenal secara global, McGrath tetap pribadi yang tertutup. Ia jarang difoto tanpa kacamata hitam besarnya, dan sering bekerja hingga dini hari di balik panggung, dikelilingi puluhan palet dan tube yang penuh catatan pribadi.
Para desainer tetap berlomba-lomba memanggilnya jauh sebelum musim fashion dimulai. Namun McGrath tidak berhenti. Pada 2023, ia meluncurkan Divine Skin, lini perawatan kulit pertamanya memperluas visinya tentang kecantikan yang berasal dari dalam.
Di era algoritma dan filter digital, karya Pat McGrath tetap setia pada keajaiban sentuhan manusia. Ia menjadikan wajah sebagai kanvas dan makeup sebagai media seni. Dan ketika tren datang dan pergi, satu hal tetap pasti: Pat McGrath tidak mengikuti tren dia menciptakannya.