Ketegangan Psikologis dalam The Invisible Man
- https://www.imdb.com/title/tt1051906/
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Ketika The Invisible Man dirilis pada Februari 2020, tak seorang pun membayangkan bahwa film ini akan menjadi simbol horor modern yang sangat relevan: menakutkan bukan karena makhluk mistis, tetapi karena teror yang tidak terlihat namun sangat nyata kekerasan dalam rumah tangga, manipulasi psikologis, dan gaslighting.
Disutradarai oleh Leigh Whannell, dan dibintangi Elisabeth Moss dalam performa yang mencekam sebagai korban kekerasan yang mencoba membuktikan bahwa dirinya dikejar oleh mantan pacarnya yang bisa menjadi tak kasatmata, The Invisible Man adalah kisah tentang trauma yang tak terlihat dan kekuasaan yang meresap bahkan ketika pelaku menghilang dari pandangan.
Diangkat secara longgar dari novel klasik H.G. Wells tahun 1897, film ini awalnya merupakan bagian dari ambisi besar Universal untuk menciptakan “Dark Universe” semesta film monster modern. Namun, setelah kegagalan kritis The Mummy (2017), Universal berputar haluan dan menyerahkan tongkat estafet kepada Whannell dan rumah produksi Blumhouse, dengan pendekatan yang lebih intim dan bernuansa.
Alih-alih menampilkan pahlawan aksi melawan makhluk mistis, Whannell mengubah narasi menjadi alegori penyintas kekerasan dalam rumah tangga yang memperjuangkan kewarasan dan otonomi dirinya sendiri. Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen), ilmuwan teknologi optik yang jenius, memalsukan kematiannya dan menggunakan penemuan mutakhirnya untuk terus mengendalikan Cecilia Kass (Moss), bahkan dari balik tirai "kematian".
Sejak adegan pembuka Cecilia melarikan diri dari rumah mewah nan steril dengan jantung berdebar dan udara penuh ketakutan Whannell menetapkan nada yang jarang kita temui dalam horor komersial: perlahan, hening, namun menghantui. Tidak ada loncatan jumpscare murahan. Sebaliknya, yang membuat penonton merinding adalah kursi yang bergerak sendiri, nafas di leher, atau hanya ruang kosong yang terasa terlalu sunyi.
Moss membawa film ini di pundaknya. Melalui ekspresi wajah dan tubuhnya yang menegang, kita menyaksikan ketakutan berubah menjadi kemarahan, lalu keteguhan. Aktingnya tak hanya menyampaikan trauma, tapi juga determinasi untuk melawan. Sutradara Whannell kerap membiarkan kamera diam menyorot ruang kosong, membuat penonton sendiri mulai mempertanyakan realitas, seperti karakter utama.