Waspada! Brain Rot Mengintai Anak Akibat Konten Viral Berlebihan
- https://www.youtube.com/watch?v=Dj1AYxdHxbU
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Istilah brain rot apakah hanya sebatas konten meme viral atau justru memiliki dampak serius pada perkembangan otak anak dan remaja? Simak penjelasan berikut menurut pakar dan fakta karya ilmiah.
Menurut pakar dari Institut Pertanian Bogor, Dr. Melly Latifah, menyoroti fenomena anomalous brainrot adalah sebagai konten absurd yang ramai beredar di TikTok dan media sosial. Konten video tersebut berisikan layaknya manusia berbentuk pentungan kayu, hiu berpakaian, serta cappuccino berkepala balerina.
Menurutnya, anak-anak usia pra operasional (Piaget) belum sepenuhnya bisa membedakan mana dunia fantasi dan kenyataan. Visual absurd pada konten dapat memicu pelepasan dopamin berlebih, yang pada akhirnya dapat mengganggu fokus dan stabilitas emosi. Narasi yang tidak selaras juga dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa pada anak.
Remaja pun berpotensi mengalami gagalnya pola pikir logis, karena terbiasa dengan konten yang semakin absurd dan dinilai menarik. Dampak lainnya termasuk menurunnya empati, karena konteks emosional yang sering diabaikan dalam video-video tersebut.
Sebuah informasi dari laman Psikologi UGM menyatakah bahwa brain rot bukanlah kondisi medis literal, melainkan ungkapan yang menggambarkan konsumsi berlebihan terhadap konten digital rendah mutu. Hal ini terutama terletak pada video singkat dan meme yang membuat otak terbiasa bekerja secara instan
Subjudul: Lantas, Apa Gejala yang Umum Terjadi pada Mereka Jika Sudah Terkena Brain Rot?
Dr. Melly memaparkan ada 4 gejala umum brain rot yang biasa terlihat pada anak-anak dan remaja:
- Sulit konsentrasi dan bahkan sering lupa instruksi sederhana.
- Bicara patah-patah serta kosakata menyusut.
- Ekspresi emosional yang tajam secara online, tapi datar dalam interaksi langsung.
- Marah atau gelisah saat gadget diambil.
Jika anak-anak dan remaja sudah terlanjur mengalami brain rot, Dr. Melly menyarankan 6 langkah praktis yang bisa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya:
- Bangun literasi digital. Para orang tua bisa menjelaskan kalau konten AI di media sosial itu fiksi, tidak nyata.
- Batasi akses gadget pada anak, misalnya maksimal 5 menit per hari atau hindari gadget sebelum tidur.
- Ubah konsumsi pasif menjadi aktif: Ajak anak mengenali ketidakwajaran dalam konten. Dorong mereka untuk bertanya, berdiskusi, dan berpikir kritis atas apa yang mereka lihat.
- Bantu anak membedakan realita dan fantasi dengan cara mengaitkan konten absurd dengan fakta.
- Cara terakhir yaitu dengan digital detox. Beri anak waktu Istirahat dalam mengakses internet selama tiga sampai tujuh hari dan ganti dengan aktivitas bermain di luar ruangan atau kegiatan fisik lainnya.