Sangat Mengenyangkan, 5 Menu Olahan Sagu Ini Bisa Menjadi Pengganti Nasi
- Jcomp/Freepik
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Sagu adalah termasuk bahan makanan utama di beberapa wilayah. Bagi masyarakat yang tidak memiliki pohonnya, maka bisa memakai tepung sagu. Karena tepung ini, maka menu olahan sagu juga semakin mudah dibuat.
Makanan pengganti nasi satu ini bisa dibuat menjadi berbagai makanan yang mengenyangkan dan bisa menjadi pengganti nasi. Jika penasaran dengan apa saja menunya, maka simak daftar berikut.
1. Papeda
Menu olahan sagu pertama yang sangat umum dan bisa dipadukan dengan banyak makanan adalah papeda. Tampilan makanan ini adalah seperti bubur, yang jika ditarik akan sangat kenyal.
Biasanya makanan tradisional sagu ini bisa dimakan dengan sayur ikan kuah kuning. Kombinasi tersebut akan membuat makanan ini sangat enak serta mengenyangkan untuk dicoba.
2. Kapurung
Selain papeda, sagu juga bisa dimasak menjadi kapurung. Menu olahan sagu satu ini berasal dari wilayah Sulawesi Selatan. Untuk masakan satu ini, sagu akan dibentuk bulat seperti bola kecil-kecil.
Kemudian nantinya bola-bola sagu akan dimakan dengan berbagai menu pendamping seperti kuah asam, sayur kuah, hingga lauk ikan. Makanan ini juga termasuk dalam olahan sagu basah yang akan sangat mengenyangkan.
3. Laupek Sage
Lalu ada juga menu olahan sagu yang dikombinasikan dengan pisang dan kelapa parut bernama laupek sage. Makanan ini berasal dari wilayah Aceh, dan rasanya akan cenderung manis dan gurih.
Karena termasuk olahan sagu sederhana, laupek sage ini umum ditemukan dalam acara hajatan. Teksturnya sendiri juga kenyal sehingga akan sangat menarik saat dikonsumsi sebagai menu makanan.
4. Bubur Sagu Ambon
Bubur sagu ambon juga termasuk menu olahan sagu yang wajib dicoba. Masakan ini juga termasuk jenis yang manis namun tetap ada sensasi gurih. Saat dicoba, makanan ini tidak akan salah di lidah dan bisa dijadikan menu sarapan.
5. Sagu Lempeng
Terakhir ada camilan tepung sagu yang diberi nama sagu lempeng. Makanan tradisional ini umum ditemukan di Papua dan Maluku. Bentuknya sendiri tergolong keras, jadi bisa dikonsumsi dengan cara dicelupkan di teh atau kopi.