Walang Goreng, Ikon Kuliner Unik dan Bernutrisi dari Gunung Kidul

Belalang Goreng Jadi Salah Satu Makanan Khas Gunungkidul, DIY
Sumber :
  • https://www.freepik.com/premium-photo/close-up-salad-plate-table_101363989.htm

Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Gunung Kidul, sebuah kabupaten di Yogyakarta yang dikenal dengan lanskap karstnya yang tandus dan pantainya yang memesona, ternyata memiliki satu keunikan lain yang mencuri perhatian wisatawan. Ada sebuah kuliner khas yang cukup ekstrem dan unik bernama walang goreng.

img_title Cara Membuat Fake Project untuk Portfolio, Cocok untuk Fresh Graduate

Walang goreng ialah olahan belalang goreng yang menjadi simbol kreativitas dan adaptasi masyarakat lokal Kabupaten Gunungkidul. Awalnya sekadar hama tanaman, belalang justru diolah menjadi camilan gurih dan renyah penuh gizi, serta kini menjadi daya tarik kuliner di kawasan wisata Jogja.

img_title Belum Punya Pengalaman? Ini Ide Fake Project untuk Portfolio

Ketika musim hujan tiba, jalanan sepanjang rute Jogja–Wonosari dipenuhi kios penjual belalang goreng. Wisatawan dari luar daerah bahkan luar pulau membeli walang goreng sebagai oleh‑oleh karena keunikannya dan rasa penasaran yang tinggi terhadap makanan ini.

Setiap toples dengan isi sekitar satu ons dijual antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu, dengan penjualan bisa mencapai puluhan toples per hari saat musim liburan. Meskipun terkesan ekstrem, walang goreng mengandung banyak manfaat nutrisi.

img_title Memulai Hobi Aquaponik, Cara Sederhana untuk Pemula di Rumah

 Belalang kaya akan protein, vitamin B kompleks, besi, kalsium, magnesium, serta nutrisi lainnya. Oleh karena itu, makanan ini tidak hanya menjadi pengalaman kuliner yang unik, tetapi juga pilihan alternatif protein sehat bagi masyarakat dan wisatawan.

Awal mula konsumsi belalang di Gunung Kidul bermula dari kebutuhan para petani yang menghadapi hama tanaman. Daripada membiarkan belalang merusak hasil panen, petani mencoba menangkap dan menggorengnya.

Ternyata hasilnya menggugah selera. Gurih, renyah, dan mudah dibuat. Teknik memasak yang sederhana dan bahan belalang yang mudah diperoleh membuat kuliner ini berkembang secara turun‑temurun.

Seiring waktu, masyarakat mulai menyiapkan belalang sebagai produk dagangan. Pada tahun 1998,  beberapa warga sudah menjajakan walang goreng dan menjadikannya sumber penghidupan keluarga. Nilai jualnya cukup tinggi, terutama ketika wisatawan datang dan tertarik mencobanya.

Pada sisi lain, walang goreng menjadi ikon wisata kuliner Gunung Kidul lewat kolaborasi strategi kolaboratif antara masyarakat dan Pemerintah Daerah. Sebagai contoh, desa wisata seperti Nglanggeran dan pasar digital serta ekologis memperkenalkan walang goreng sebagai atraksi budaya dan kuliner ikonik setempat.

Halaman Selanjutnya
img_title