Mengenal Suku Asmat, Sang Maestro Ukiran dari Papua yang Mendunia
- https://eventdaerah.kemenparekraf.go.id/detail-event/festival-asmat-pokman
Budaya, VIVA Banyuwangi – Papua bukan hanya dikenal dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, tetapi juga budaya sukunya yang begitu unik dan sarat makna. Salah satu suku yang mencerminkan kekayaan budaya Papua adalah suku Asmat. Terkenal hingga ke mancanegara karena keahlian mereka dalam seni ukir kayu tradisional, suku Asmat adalah simbol kehidupan, spiritualitas, dan warisan nenek moyang yang masih hidup hingga kini.
Dua Kelompok, Satu Identitas Kuat
Suku Asmat mendiami wilayah yang luas dari pesisir Laut Arafura hingga pegunungan Jayawijaya. Mereka tersebar di tujuh distrik di Kabupaten Asmat, Papua. Secara umum, suku ini terbagi menjadi dua kelompok yang tinggal di pesisir dan yang hidup di pedalaman. Keduanya memiliki cara hidup yang berbeda. Penduduk pesisir biasanya berprofesi sebagai nelayan, sedangkan masyarakat pedalaman menggantungkan hidup dari berburu dan bercocok tanam.
Meski cara hidup mereka berbeda, secara fisik suku Asmat memiliki ciri khas serupa. Tinggi badan rata rata laki laki adalah 172 cm, sedangkan perempuan sekitar 162 cm. Kulit mereka cenderung gelap dan berambut keriting. Ciri fisik ini menunjukkan adanya hubungan kekerabatan dengan masyarakat Polinesia.
Ukiran Kayu, Nafas Kehidupan Suku Asmat
Seni ukir bukan sekadar keterampilan bagi suku Asmat, melainkan bagian dari hidup. Mereka percaya bahwa siapa pun yang tidak bisa mengukir, menari, menyanyi, atau menenun dianggap tidak layak hidup. Cerita leluhur menyebutkan bahwa kemampuan mengukir berasal dari seorang tokoh mitologi bernama Fumiripitsy, yang pertama kali menciptakan tifa bernama Eme dan patung spiritual Mbis.
Konon, saat tifa dibunyikan, patung Mbis akan menari layaknya manusia. Dari sinilah suku Asmat meyakini bahwa seni ukir adalah warisan suci yang menghubungkan mereka dengan dunia roh leluhur. Oleh karena itu, setiap ukiran, baik berupa perisai, busur, atau dayung, diberi nama orang yang telah meninggal agar tetap dikenang.
Dari Tulang Kasuari hingga Besi Modern
Sebelum mengenal logam, suku Asmat menggunakan tulang burung kasuari sebagai alat pahat. Namun, semuanya berubah saat Ekspedisi Lorentz melewati wilayah mereka pada tahun 1907. Sejak itu, besi menjadi benda yang sangat mereka puja. Mereka bahkan pernah membongkar bangku sekolah di sebuah gereja hanya demi mendapatkan paku untuk dijadikan pahat.