Mengapa Orang Melakukan Gaslighting? Ini 3 Penyebab Utamanya yang Jarang Dibahas
- https://unsplash.com/id/foto/gadis-muda-asia-merasa-marah-pacar-memiliki-masalah-rumah-tangga-konflik-pria-dan-wanita-pernikahan-baru-merasa-patah-
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Kita sering mendengar istilah gaslighting, sebuah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang membuat korbannya meragukan realitas, ingatan, atau kewarasannya sendiri. Tapi, tahukah kamu apa yang sebenarnya mendorong seseorang melakukan tindakan manipulatif ini?
Menurut Dr. Jennifer Fraser dalam artikelnya di Psychology Today, ada tiga pendorong utama yang membuat seseorang cenderung melakukan gaslighting. Poin-poin ini memberi kamu pemahaman lebih dalam, bukan hanya soal apa itu gaslighting, tapi mengapa itu terjadi.
1. Takut Kehilangan: Ketidakamanan dalam Hubungan
Banyak pelaku gaslighting sebenarnya merasa takut ditinggalkan. Mereka mengalami semacam separation insecurity atau ketakutan akan kehilangan koneksi dengan orang yang mereka anggap penting. Dalam kondisi ini, mereka mencoba mempertahankan hubungan dengan cara yang salah, yaitu melalui kontrol psikologis. Manipulasi menjadi senjata untuk memastikan orang lain tetap "melekat" pada mereka, bahkan jika itu berarti merusak mental si korban.
2. Menghindari Tanggung Jawab
Salah satu ciri kuat dari gaslighter adalah menolak bertanggung jawab. Ketika terjadi konflik, mereka tidak akan mengaku salah atau minta maaf. Sebaliknya, mereka menyalahkan korban. Frasa seperti “kamu terlalu sensitif” atau “itu cuma di kepalamu” sering digunakan untuk mengalihkan perhatian dari kesalahan mereka sendiri.
Gaslighter takut terlihat lemah atau salah, sehingga mereka menciptakan narasi palsu untuk mempertahankan citra mereka. Sayangnya, ini membuat korban ragu terhadap dirinya sendiri.
3. Pengalihan dan Kebingungan Emosional
Pelaku gaslighting kerap menciptakan kebingungan secara sengaja. Mereka tahu bahwa saat korban merasa bingung, cemas, dan kehilangan arah, maka akan lebih mudah dikontrol. Taktik ini bisa berupa perubahan sikap ekstrem, kebohongan kecil yang konsisten, hingga menyalahgunakan kepercayaan.
Mereka menggunakan kekacauan emosional untuk menutupi fakta, membuat korban mempertanyakan logikanya sendiri, dan bergantung pada si pelaku sebagai satu-satunya "sumber kebenaran".
Gaslighting tidak hanya soal kebohongan ia adalah sistem manipulasi yang berakar pada ketakutan, ego, dan kebutuhan kontrol. Dengan memahami tiga faktor utama ini, kita bisa lebih peka terhadap tanda-tanda awal gaslighting, baik di lingkungan kerja, hubungan pribadi, maupun keluarga.