Mengapa Numerasi Menjadi Momok? Menggali Akar Masalah Kesulitan Belajar Matematika
- https://pixabay.com/id/photos/rakyat-anak-sekolah-jenius-316506/
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi – Pada banyak pelajar kata “numerasi” memantik desahan, kecemasan atau bahkan kepanikan dalam mata pelajaran yang berkaitan Matematika. Padahal, numerasi adalah kemampuan dasar untuk memahami bilangan, operasi, ukuran, data, dan penalaran kuantitatif yang melekat pada hampir semua keputusan sehari-hari. Pada pelajar Indonesia, kemampuan untuk pelajaran yang berkaitan dengan numerasi masih tergolong rendah dan kurang ideal. Menurut data dari PISA (2022) menunjukkan skor matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rerata OECD dan proporsi siswa berprestasi tinggi relatif kecil. Ketimpangan berbasis status sosial-ekonomi memang lebih kecil dari rerata OECD, tetapi tantangan mutu tetap nyata.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sekitar 20% siswa di negara-negara OECD mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika dasar (OECD, 2019) adalah metode pengajaran yang tidak efektif, kurangnya praktek, kecemasan matematika, kurangnya pemahaman konsep, dan faktor emosional.
1. Metode Pengajaran yang tidak Efektif
Metode pengajaran yang tidak efektif membuat siswa merasa bosan, dan tidak tertarik dengan pelajaran yang berkaitan dengan numerasi atau Matematika. Guru yang menggunakan metode ceramah tanpa memberikan kesempatan anak-anak untuk berlatih dan mempraktikkan konsep numerasi dapat membuat anak merasa kesulitan memahami materi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM), metode pengajaran yang efektif harus melibatkan anak dalam proses pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mempraktikkan konsep yang dipelajari (NCTM, 2014).
2. Kurangnya Praktek
Kurangnya praktek dan kesempatan untuk mempraktekkan konsep numerasi dapat membuat anak merasa tidak percaya diri dan tidak siap untuk menghadapi soal-soal numerasi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kilpatrick, Swafford, dan Findell (2001), praktek yang cukup dapat membantu anak membangun kemampuan numerasi yang kuat dan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi soal-soal numerasi
3. Kecemasan Matematika
Kecemasan matematika dapat membuat anak merasa takut dan tidak percaya diri ketika menghadapi soal-soal numerasi.. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ashcraft (2002), kecemasan matematika dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam belajar numerasi dan membuat mereka merasa tidak percaya diri.