Mood Berubah Saat Haid? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari Pra hingga Pasca Menstruasi
- https://unsplash.com/id/foto/sakit-perut-mereda-dengan-termofora-sementara-wanita-berbaring-di-sofa-di-bawah-selimut-SGQDWcLJ2Y8
Gaya Hidup, VIVA Banyuwangi –Perubahan suasana hati atau mood swing saat menstruasi bukanlah hal yang dibuat-buat. Banyak perempuan merasa lebih sensitif, mudah tersinggung, atau bahkan tiba-tiba sedih tanpa sebab jelas saat siklus haid datang. Tapi apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh? Dan bagaimana cara kita mengelolanya?
Dikutip dari laman Mayo Clinic, perubahan hormon estrogen dan progesteron sangat memengaruhi kestabilan emosi. Sekitar satu minggu sebelum menstruasi, kadar estrogen menurun tajam. Hormon ini memengaruhi serotonin yaitu zat kimia otak yang mengatur suasana hati. Penurunan serotonin inilah yang dapat menyebabkan munculnya rasa murung, cemas, atau marah.
1. Gejala Pra-Haid, PMS atau PMDD?
Tak semua perubahan mood sebelum haid bisa dikategorikan sebagai PMS (premenstrual syndrome). Beberapa perempuan mengalami PMDD (premenstrual dysphoric disorder), versi lebih parah dari PMS, yang dikaitkan dengan gejala seperti depresi berat, mudah menangis, dan rasa putus asa. Menurut Mayo Clinic, PMDD memengaruhi sekitar 5-8% perempuan usia subur.
2. Saat Haid, Emosi Naik-Turun
Selama fase menstruasi, tubuh kehilangan darah dan zat besi. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan kelelahan dan memperburuk suasana hati. Dikutip dari jurnal Nutrients, kekurangan mikronutrien seperti vitamin B6, magnesium, dan zat besi dikaitkan dengan tingkat iritabilitas yang lebih tinggi.
3. Setelah Haid, Fase Tenang yang Bisa Dimanfaatkan
Begitu menstruasi selesai, kadar estrogen mulai meningkat lagi. Ini biasanya diikuti dengan perbaikan mood, peningkatan energi, dan rasa optimis. Masa ini bisa dimanfaatkan untuk aktivitas yang menantang secara emosional atau mental, karena tubuh cenderung berada dalam kondisi lebih stabil.
Tips Mengelola Mood Swing
- Olahraga ringan seperti yoga atau jalan kaki terbukti membantu meredakan ketegangan dan meningkatkan produksi endorfin.
- Tidur cukup dan menjaga kualitas tidur dapat memperbaiki regulasi emosi.
- Konsumsi makanan seimbang, terutama yang kaya zat besi dan vitamin B kompleks.
- Gunakan aplikasi pelacak siklus menstruasi untuk memahami pola emosional yang berulang.
- Latih teknik mindfulness atau pernapasan dalam saat merasa overwhelmed.
- Pertimbangkan terapi atau konsultasi dengan psikolog jika perubahan mood mengganggu aktivitas harian.