Sate Kelinci, Gurih Hangat dari Lereng Pegunungan
- https://thumb.viva.id/vivabandung/665x374/2022/12/20/63a1c488105f7-sate-kelinci_bandung.jpg
Kuliner, VIVA Banyuwangi –Sate kelinci dikenal luas di kawasan wisata dataran tinggi seperti Bandung, Puncak, Tawangmangu, Batu-Malang, hingga Dieng. Di daerah-daerah itu, kelinci bukan hanya hewan peliharaan lucu, tetapi juga sumber pangan bernilai tinggi. Awalnya, kelinci dibudidayakan untuk diambil bulu atau dijual sebagai hewan hias. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai mengolahnya menjadi hidangan lezat yang kaya gizi. Munculnya sate kelinci diyakini sebagai bentuk adaptasi masyarakat pegunungan terhadap kebutuhan protein hewani yang mudah didapat dan cepat diolah. Selain itu, daging kelinci memiliki tekstur lembut, rendah lemak, dan tinggi protein, membuatnya cocok untuk berbagai olahan masakan, terutama sate.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2020), daging kelinci mengandung protein sekitar 21% dan lemak hanya 4–5%, jauh lebih rendah dibandingkan daging sapi atau ayam. Tak heran bila banyak orang menganggapnya sebagai “daging sehat dari pegunungan”.
Berbeda dengan daging kambing yang cenderung beraroma tajam, daging kelinci memiliki rasa gurih lembut tanpa bau amis. Dagingnya mudah empuk saat digigit, apalagi bila dimasak dengan cara yang benar. Kombinasi bumbu sederhana dengan kecap manis menjadikan rasanya kaya namun tetap ringan di lidah. Sate kelinci juga fleksibel diolah , bisa dibuat dengan bumbu kacang seperti sate Madura, atau bumbu kecap pedas seperti sate khas Jawa Barat. Di beberapa daerah seperti Dieng dan Puncak, sate kelinci sering disajikan bersama lontong dan sambal oncom, menambah kekayaan cita rasa lokal.
“Sate kelinci bukan sekadar makanan, tapi pengalaman — rasa hangat di tengah dingin, dan aroma arang yang membawa kenangan,” ujar Slamet Riyadi, salah satu penjual sate kelinci di kawasan Batu, dalam wawancara dengan Kompas Kuliner (2021).
Bahan Utama:
1. Daging kelinci segar — 500 gram (potong kecil dadu ukuran 2×2 cm)
- Tusuk sate — secukupnya (rendam dalam air agar tidak gosong)
- Minyak goreng — 2 sdm
- Kecap manis — 5 sdm
- Jeruk limau — 1 buah (untuk penyajiannya)
Bumbu Marinasi (Haluskan):
1. Bawang putih — 4 siung
- Bawang merah — 6 butir
- Ketumbar — 1 sdt
- Garam — 1 sdt
- Gula merah — ½ sdm
- Kemiri sangrai — 2 butir
- Jahe — 1 cm
- Air jeruk nipis — 1 sdt