Disorot Publik, Kemenekraf Tegaskan Tak Biayai Film Animasi Merah Putih One For All
- https://www.youtube.com/watch?v=FuIHzJdKCCE
Jakarta, VIVA Banyuwangi – Film animasi “Merah Putih: One for All” tengah menjadi buah bibir di tengah masyarakat, apalagi menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80. Namun di tengah euforia tersebut, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menegaskan bahwa pemerintah tidak terlibat dalam pendanaan maupun promosi film tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Irene melalui akun Instagram pribadinya @irene_umar pada Minggu, 10 Agutus 2025. Dalam unggahan tersebut, ia menulis bahwa Kementerian Ekonomi Kreatif tidak memberikan bantuan dana maupun fasilitas promosi untuk film yang diproduksi oleh Perfiki Kreasindo itu.
“Saya sendiri menerima audiensi tim produksi film beberapa waktu yang lalu dimana saya menyampaikan beberapa masukan dari saya termasuk yang teknis terkait cerita, karakter looks and feels, trailer dan lain-lain, ini selalu saya lakukan di setiap audiensi dengan semua pihak,” tulis Irene dikutip dari Antaranews.con, Senin, 11 Agustus 2025.
Menurutnya, pertemuan dengan tim produksi lebih kepada sesi berbagi pandangan dan masukan berdasarkan pengalamannya di industri kreatif. Ia juga menyebut pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk mendengarkan aspirasi pelaku industri animasi Tanah Air.
Meski tidak terlibat secara langsung, Irene tetap memberikan apresiasi atas kehadiran film ini sebagai bentuk kemajuan sektor animasi nasional.
“Terima kasih untuk semangat teman-teman yang ingin industri animasi dan film untuk terus maju. I truly appreciate it (saya sangat mengapresiasinya),” tulisnya lagi.
Film “Merah Putih: One for All” sendiri dijadwalkan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025. Trailer-nya sudah bisa disaksikan melalui kanal YouTube Perfiki TV, CGV Kreasi, dan Historika Film.
Disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, serta diproduseri oleh Toto Soegriwo, film ini berkisah tentang sekelompok anak yang tergabung dalam “Tim Merah Putih” dan diberi tugas menjaga bendera pusaka di sebuah desa menjelang Hari Kemerdekaan. Konflik dimulai ketika bendera tersebut hilang, memaksa mereka bersatu dalam sebuah misi penyelamatan.
Meskipun bukan proyek yang didanai pemerintah, Irene menegaskan bahwa semua pelaku ekonomi kreatif memiliki ruang untuk berkarya, selama membawa dampak positif bagi masyarakat.