Lumajang Heboh, Kasus Gangguan Pendengaran Naik Gara-Gara Sound Horeg
- https://www.tvonenews.com/gallery-foto/berita/nasional/360778-mui-jawa-timur-sebut-se-sound-horeg-bisa-naik-jadi-perda-atau-pergub
Lumajang, VIVA Banyuwangi – RSUD dr. Haryoto Lumajang melaporkan adanya peningkatan signifikan jumlah pasien yang datang ke poli Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data rumah sakit, lonjakan tersebut mencapai sekitar 25% dibandingkan periode sebelumnya, dengan keluhan utama berupa gangguan pendengaran.
Dilansir dari akun TikTok @timescoid, dokter Spesialis THT RSUD dr. Haryoto, dr. Aliyah Hidayati, Sp.THT-KL, menjelaskan bahwa tren peningkatan ini diduga kuat berkaitan dengan maraknya penggunaan sound horeg di berbagai acara masyarakat, seperti karnaval, hajatan, hingga acara musik jalanan.
“Banyak pasien yang bercerita, keluhan gangguan pendengaran mulai muncul setelah menghadiri acara dengan suara musik yang sangat keras atau saat terpapar suara dari rumah tetangga yang menyewa sound horeg,” ujar Aliyah.
Ia menambahkan, paparan suara dengan volume tinggi dalam waktu lama dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam, yang berperan penting dalam proses pendengaran. Kerusakan ini bisa bersifat permanen jika tidak segera ditangani.
Menurutnya, pada sebagian pasien, paparan suara bising bahkan memperburuk kondisi gangguan pendengaran yang sudah ada sebelumnya. Tidak jarang, pasien datang dengan keluhan telinga berdenging (tinnitus), penurunan daya dengar secara tiba-tiba, hingga rasa nyeri pada telinga.
“Kondisi ini cukup memprihatinkan karena bila dibiarkan, dampaknya bisa jangka panjang. Bahkan, risiko tuli permanen semakin besar jika paparan suara keras terus berulang tanpa perlindungan,” tegasnya.
Aliyah mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan sound system berdaya tinggi dan mengatur volume sesuai batas aman. Bagi yang sering menghadiri acara dengan musik keras, ia menyarankan untuk menggunakan pelindung telinga dan membatasi durasi paparan.
“Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan pendengaran masih rendah. Padahal, pendengaran adalah aset penting yang jika rusak, sulit sekali dipulihkan,” tutup Aliyah.