Demonstran Semakin Brutal, Bupati Pati Ngotot Tak Akan Mundur!
- youtube.com
Pati, VIVA Banyuwangi – Suasana panas menyelimuti Pati, Jawa Tengah. Unjuk rasa yang digelar ribuan warga menuntut mundur Bupati Sudewo berakhir ricuh dan anarkis pada hari Kamis, 14 Agustus 2025. Aksi brutal itu menelan korban dan kerugian material, termasuk satu unit mobil polisi yang ludes dibakar massa.
Seperti dikutip dari video yang dilansir kanal YouTube @tvOneNews pada hari yang sama, kericuhan pecah di depan kantor bupati. Emosi massa memuncak setelah melemparkan botol ke arah kantor. Polisi merespons dengan tembakan gas air mata.
Tindakan polisi tersebut justru membuat situasi semakin tidak terkendali. Para demonstran semakin brutal dan merusak fasilitas umum. Puncaknya adalah ketika sebuah mobil polisi dibakar.
"Ini adalah proses pembelajaran dan saya akan memperbaiki segalanya," tutur Bupati Pati Sudewo.
Ia mengatakan, dirinya memahami emosi dari para demonstran yang sulit dikendalikan. Bupati memilih untuk bersikap tenang dalam menghadapi insiden ini.
Bupati Sudewo juga menegaskan, ia tidak akan mundur dari jabatannya. Tuntutan ribuan warga itu tidak akan ia hiraukan. Menurutnya, ia memiliki alasan yang kuat untuk tetap menjabat.
"Saya dipilih oleh rakyat secara konstitusional dan demokratis," ujar Sudewo. Seperti dikutip dari video yang dilansir kanal YouTube @tvOneNews
Ia menolak untuk menyerah pada tekanan massa yang melakukan tindakan anarkis. Bupati yakin bahwa jabatannya sah secara hukum.
Meskipun demikian, ia tetap menghormati langkah-langkah politik yang diambil oleh DPRD. DPRD Pati menyetujui pembentukan panitia khusus (pansus) dan hak angket. Langkah ini diambil untuk menanggapi tuntutan masyarakat.
"Semuanya ada mekanismenya," tambah Bupati Sudewo, merujuk pada proses pemakzulan.
Ia menegaskan, dirinya akan mengikuti semua prosedur yang ada. Bupati siap menghadapi konsekuensi dari proses politik tersebut.
Pihak kepolisian pun menduga ada penyusup yang sengaja memprovokasi massa. Dugaan ini menguat setelah melihat aksi anarkis yang tidak terkendali. Penyelidikan mendalam sedang dilakukan untuk mengidentifikasi para provokator tersebut.
Aksi massa ini dipicu oleh kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250 persen. Meskipun kebijakan kontroversial itu telah dicabut, amarah warga tidak surut. Mereka menilai, bupati telah gagal dalam menjalankan pemerintahan.