Siasat Rusia! 3 Tahun Konflik, Putin Puji Trump Minta Donbas Ditukar Gencatan Senjata!
- youtube.com
Rusia, VIVA Banyuwangi – Ketegangan di Eropa Timur memasuki babak baru setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan yang akan digelar di Anchorage, Alaska, ini dikabarkan untuk membahas jalan keluar dari konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama 3,5 tahun.
Seperti dilansir dari kanal YouTube @tvOneNews pada Jumat, 15 Agustus 2025, rencana pertemuan ini mendapat respons keras dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia menuding Rusia hanya mencari celah untuk mengambil keuntungan.
"Rusia hanya ingin mengulur waktu," ujar Zelenskyy. Seperti dilansir dari kanal YouTube @tvOneNews.
Ia menambahkan, tidak ada niat tulus dari Moskow untuk mengakhiri perang.
Zelenskyy menuduh Rusia sedang mempersiapkan serangan baru. Tuduhan ini semakin membuat suasana tegang menjelang pertemuan penting tersebut.
"Kami tidak akan menyerahkan sepetak pun tanah kami," kata Zelenskyy. Jumat, 15 Agustus 2025.
Ia dengan tegas menolak ide pertukaran wilayah demi gencatan senjata.
Rencana pertemuan Trump-Putin ini memunculkan spekulasi tentang kemungkinan pertukaran wilayah. Trump sendiri sempat mengisyaratkan bahwa perdamaian mungkin akan melibatkan konsesi wilayah dari Ukraina.
"Saya akan mencoba mengakhiri perang ini," tutur Trump.
Ia menjelaskan, perdamaian akan membutuhkan kompromi dari kedua belah pihak.
Namun, juru bicara Kremlin, Mikhail, membantah spekulasi tersebut. Ia menegaskan, fokus utama pertemuan adalah menemukan solusi damai jangka panjang.
"Pembicaraan ini tidak akan mudah," ungkap Mikhail, juru bicara Kremlin.
Ia menambahkan, Rusia bersikap terbuka untuk bernegosiasi.
Kremlin juga menyindir Zelenskyy yang dianggap gagal menepati janjinya. Mereka bahkan mempertanyakan legalitas posisinya sebagai presiden.
"Ia adalah pemimpin yang tidak sah," tutur Mikhail.
Ia menyebut masa jabatan Zelenskyy sudah berakhir dan tidak ada pemilu yang diadakan.
Sebelumnya, Trump sempat mempertimbangkan untuk mengundang Zelenskyy. Namun, niat itu dibatalkan dengan alasan yang cukup menyakitkan.
"Ia sudah menghadiri banyak pertemuan tanpa hasil," kata Trump.
Ia merasa kehadiran Zelenskyy hanya akan membuat negosiasi tidak efektif.
Putin sendiri memasuki negosiasi ini dengan posisi yang sangat kuat. Dukungan dari negara-negara BRICS menjadi salah satu faktor utama yang memperkuatnya.