Mentan Beberkan Skala Kerugian Akibat Beras Oplosan, Konsumen Terdampak Triliunan!
- tvonenews.com
Jakarta, VIVA Banyuwangi –Kementerian Pertanian (Kementan) membongkar praktik kecurangan dalam peredaran beras di pasaran. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkap temuan mengejutkan dari pengujian 10 sampel beras yang dijual dengan label premium medium, di mana kandungan beras patahnya (broken rice) mencapai tingkat yang sangat ekstrem.
"Aku bocorkan, ya. Kami ambil 10 (sampel), itu broken-nya 30–59 persen," ungkap Amran, pada Sabtu, 16 Agustus 2025, seperti dilansir dari tvonenews.com.
Ia menegaskan bahwa angka ini jauh melampaui standar yang ditetapkan, di mana beras kategori premium medium seharusnya hanya memiliki kandungan beras patah maksimal 15 persen. Praktik ini jelas merugikan konsumen yang membayar harga premium namun mendapatkan kualitas di bawah standar.
"Ekstrem, kan? Ekstrem banget,” tutur Amran.
Temuan ini merupakan bagian dari upaya besar Kementan dalam menindak praktik beras oplosan.
Sebelumnya, kementerian telah mengungkap bahwa praktik curang ini telah mengakibatkan kerugian konsumen yang ditaksir mencapai Rp99,35 triliun. Sebanyak 212 merek beras yang beredar di pasaran terbukti tidak memenuhi standar mutu yang diwajibkan pemerintah.
Menurut Amran, penindakan tegas terhadap beras oplosan ini membawa dampak positif dengan menciptakan struktur pasar yang lebih sehat.
Salah satu perubahan signifikan adalah pergeseran kepercayaan konsumen. Masyarakat kini cenderung memilih berbelanja di pasar tradisional dan memberikan ruang usaha yang lebih luas bagi penggilingan-penggilingan gabah milik rakyat.
Ia menyimpulkan bahwa aksi ini tidak hanya soal menjaga kualitas beras, tetapi juga berhasil mengubah pola distribusi dan perilaku belanja. Kini, konsumen lebih percaya pada pasar tradisional karena harganya yang lebih murah, transparan, dan terbuka.