Israel Sahkan Proyek Jebakan Tepi Barat, Menteri Israel, ini Kubur Ide Negara Palestina!
- www.youtube.com @tvOneNews
Rusia, VIVA Banyuwangi – Keputusan Israel untuk mengesahkan pembangunan 3.401 unit rumah baru di Tepi Barat telah menimbulkan kecaman keras dari berbagai pihak. Proyek yang dikenal sebagai E1 ini dinilai sebagai langkah provokatif yang secara sengaja akan memecah belah wilayah Palestina.
Langkah ini seolah menjadi pesan menohok bagi negara-negara yang berencana mengakui Palestina sebagai sebuah negara berdaulat dalam waktu dekat.
Seperti dikutip dari kanal YouTube @OneNews Mancanegara, proyek E1 ini akan menghubungkan pemukiman Israel yang sudah ada dengan Yerusalem, secara efektif memotong wilayah Palestina menjadi dua bagian.
Akibatnya, impian untuk mendirikan ibu kota Palestina di Yerusalem Timur semakin sulit terwujud.
Keputusan ini datang menjelang Sidang Umum PBB ke-80 pada September, di mana beberapa negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Finlandia berencana memberikan pengakuan resmi kepada Palestina.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menganggap persetujuan proyek E1 ini sebagai langkah bersejarah bagi negaranya.
Ia juga menuturkan bahwa tindakan ini adalah respons atas rencana sejumlah negara yang akan mengakui Palestina sebagai sebuah negara.
"Ini mengubur gagasan negara Palestina, karena tidak ada lagi yang bisa diakui dan tidak ada orang untuk mengakuinya," ujar Bezalel.
Ia menambahkan, Israel tidak akan berdiam diri terhadap upaya internasional yang menentang pembangunan tersebut. Senin, 25 Agustus 2025.
"Siapapun di dunia yang mencoba mengakui negara Palestina, akan menerima jawaban dari kami di lapangan," kata Bezalel.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengancam akan menghancurkan Kota Gaza jika Hamas tidak memenuhi syarat untuk mengakhiri perang, termasuk pembebasan semua sandera dan pelucutan senjata.
Ia mengancam jika Hamas menolak, Kota Gaza akan mengalami nasib yang sama seperti Rafah dan Bait Hanoun.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memerintahkan kelanjutan negosiasi untuk membebaskan sandera yang ditahan oleh Hamas, bersamaan dengan operasi militer untuk merebut Kota Gaza dan menghancurkan basis pertahanan Hamas.
Hal ini menunjukkan bahwa Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Gaza, meskipun ada tekanan dari berbagai pihak.