Trump Ingin Masuk Surga, Rela Akhiri Perang Rusia-Ukraina Sampai Sebut Diri Terbawah!
- www.youtube.com @tvOneNews
Amerika Serikat, VIVA Banyuwangi – Presiden Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dunia. Kali ini, bukan karena kebijakan politik atau pernyataan kontroversial, melainkan karena ambisinya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dengan motivasi yang tak biasa.
Ia secara terbuka menyatakan bahwa upayanya untuk mewujudkan perdamaian ini adalah salah satu jalannya untuk bisa masuk surga. Pernyataan ini sontak menjadi viral dan menimbulkan beragam respons.
Seperti dikutip dari kanal YouTube @tvOneNews, dalam wawancara di acara "Fox & Friends", Trump menyampaikan bahwa motivasinya jauh lebih dalam dari sekadar penghargaan duniawi seperti Nobel Perdamaian.
Ia melihat konflik yang tak kunjung usai ini sebagai pertumpahan darah yang harus dihentikan.
"Jika saya bisa menyelamatkan 7.000 orang per minggu dari kematian, saya pikir itu sudah cukup. Saya ingin mencoba masuk surga jika memungkinkan," ungkap Trump.
Ia menambahkan, meski popularitasnya di mata publik seringkali naik-turun, ia percaya niat baiknya ini akan membantunya. Senin, 25 Agustus 2025.
"Saya dengar saya tidak sedang baik-baik saja. Saya benar-benar berada di dasar tiang totem. Tapi jika saya bisa masuk surga, ini akan menjadi salah satu alasannya," tutur Trump.
Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah ia menjadi tuan rumah bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan para pemimpin Eropa di Gedung Putih, yang dilanjutkan dengan panggilan telepon ke Presiden Rusia Vladimir Putin.
Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menanggapi pertanyaan media terkait apakah pernyataan Trump tersebut merupakan lelucon. Ia menegaskan bahwa Trump sangat serius.
"Saya pikir Presiden serius. Saya pikir Presiden ingin masuk surga seperti yang saya harapkan kita semua inginkan di ruangan ini," kata Karoline.
"Presiden Trump percaya bahwa menyelamatkan nyawa melalui diplomasi adalah tujuan yang mulia. Ia menjalankan misi ini dengan serius, baik sebagai seorang negarawan maupun orang yang beriman," pungkas Karoline.
Upaya Trump untuk menengahi perdamaian ini disebutnya sebagai langkah untuk memecah kebuntuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurutnya, sejarah mencatat bahwa Rusia selalu bertindak agresif di bawah pemerintahan presiden-presiden AS sebelumnya, namun tidak di masa kepemimpinannya.