Ribuan Warga Israel Padati Jalan, Tuntut Netanyahu Akhiri Perang Demi Nyawa Sandera

Pecah! Ribuan Warga Israel Padati Jalan
Sumber :
  • www.youtube.com @tvOneNews

Israel, VIVA Banyuwangi – Gelombang protes kembali mengguncang Israel pada Selasa, 26 Agustus 2025, saat ribuan warga Tel Aviv turun ke jalan dalam aksi massa bertajuk ‘Day of Disruption’ atau ‘Hari Gangguan’. Aksi ini memicu kemacetan parah di jalan-jalan utama dan mengganggu aktivitas kota.

img_title AISNU Jatim Perluas Program SABDA AI, Guru TK hingga SMP di Lamongan Dibekali Literasi Artificial Intelligence

Namun, di balik kekacauan tersebut, ada satu tuntutan yang sangat mendesak dari para demonstran: agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera menyepakati gencatan senjata dengan Hamas demi memulangkan para sandera.

Para demonstran, yang sebagian besar adalah keluarga dan kerabat sandera, berkumpul di jalan-jalan protokol, termasuk jalan raya Ayalon, sambil membawa spanduk bertuliskan “Bawa Mereka Pulang” dan potret-potret orang yang mereka cintai.

img_title Duta Muda Sidoarjo 2026 Berikan Apresiasi kepada RSI Siti Hajar sebagai Official Medical Partner

Salah satu suara yang paling lantang datang dari Lishay Miran Lavi, istri dari sandera Omri Miran. Dengan nada getir, ia menyatakan bahwa nyawa orang yang dicintainya berada di ujung tanduk.

“Ini bukan hanya keputusan militer. Ini bisa menjadi hukuman mati bagi orang-orang yang paling kami cintai,” ujar Lishay Miran Lavi. Seperti dikutip dari kanal YouTube @tvOneNews.

img_title Sekawan Bumi Foundation Salurkan Bantuan Air Bersih dan Gelar Aksi Asuh Pohon di Lereng Gunung Penanggungan

Ia menambahkan, pihak keluarga merasa pemerintah seolah mengabaikan mereka. 

"Setiap hari berlalu adalah siksaan. Kami di sini untuk mengingatkan pemerintah bahwa mereka tidak hanya berperang melawan musuh, tetapi juga melawan waktu untuk menyelamatkan anak-anak dan keluarga kami," tuturnya.

Protes ini merupakan puncak dari kegelisahan publik yang semakin memuncak. Masyarakat Israel frustrasi melihat pemerintah yang dianggap enggan mencapai kesepakatan yang bisa menghentikan konflik dan memulangkan para sandera.

Mereka menuduh pemerintah mengutamakan ambisi politik dan militer daripada keselamatan warga negaranya sendiri. Aksi ini menjadi pengingat keras bahwa dukungan publik terhadap perang bisa saja luntur jika tidak ada hasil konkret terkait pembebasan sandera.

Para keluarga sandera juga mengumumkan bahwa mereka akan terus menggelar aksi protes serupa jika tuntutan mereka tidak didengarkan. Mereka menyerukan kepada seluruh masyarakat Israel untuk bergabung dalam perjuangan mereka, karena mereka percaya bahwa hanya melalui tekanan rakyat yang kuat, pemerintah akan mengubah arah kebijakannya.

Halaman Selanjutnya
img_title