Pemkot Tetapkan Alih Fungsi Gedung Kesenian, Komunitas Seni Masih Kecewa
- Faradila Setya Utami
Banyuwangi – Polemik alih fungsi gedung kesenian menjadi gedung tenis indoor di Kota Probolinggo nampaknya sudah mulai terbaca arahnya. Sebelumnya, kebijakan Pemerintah untuk mengalihfungsikan Gedung Kesenian menuai penolakan dari pihak Komunitas Pelaku Seni. Berbagai upaya telah dilakukan seperti melakukan audiensi dengan DPRD, Latihan Bersama di Halaman Museum Kota, dan lainnya.
Pihak Pemkot dan Komunitas Kesenian sebelum audiensi dimulai
- Faradila Setya Utami
Upaya terakhir yang dilakukan oleh Komunitas Seni adalah mengusahakan audiensi dengan Wali Kota yang akhirnya terkabul dan diselenggarakan pada jum’at (29/8) di kantor Pemerintah Kota. Mediasi yang dilakukan selama 2 jam itu menghasilkan Kesimpulan bahwa Pengalihfungsian tetap akan dilakukan.
Wali Kota Aminuddin mengatakan bahwa keputusan ini sudah melalui berbagai diskusi dan pembahasan dengan sejumlah pihak. “Memang tidak bisa, gedung yang awalnya dikonsep dengan gedung tenis itu mau dirubah bagaimanapun tidak akan menjadi gedung kebudayaan. Karena konstruksi dan situasinya memang untuk tenis,” jelas Aminuddin pada Banyuwangi.viva.co.id.
Aminuddin menambahkan bahwa Langkah tersebut merupakan Langkah tercepat untuk menghidupkan pusat keramaian dan icon kota baru yang ingin dikembangkan.
“Hanya saja yang kita inginkan adalah bagaimana akselerasinya atau hasil yang cepat,” ujarnya. Ia ingin nantinya ada pusat kegiatan kebudayaan Dimana dapat diadakan pertunjukan tiap malamnya.
Selain itu, pemerintah memiliki rencana sendiri untuk sektor kebudayaan dan menganggarkan hampir 2,8 miliar rupiah serta mengajukan tambahan dana sebesar 3 miliar melalui Kementrian Kebudayaan. langkah ini merupakan bagian dari upaya menaikkan kelas budaya Kota Probolinggo.
“Kami sudah membuat konsep pokok budaya Probolinggo. Nantinya memang harus ada mitra kerja dari pemerintah, bukan hanya Dewan Kesenian, tetapi menjadi Dewan Kesenian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” paparnya.
Namun pihak dari komunitas seni masih belum terpuaskan dengan hasil audiensi. Konsep budaya yang dimaksud antara komunitas seni dengan pemerintah nampaknya memiliki perbedaan. Seni yang dibawa oleh komunitas seni merupakan seni tradisional yang memerlukan perhatian khusus. Hal ini sedikit berbeda denga keyakinan pemerintah yang membawa segala macam seni dan budaya, termasuk budaya pop.
“Kita tetap tidak setuju dan sangat kecewa. Konsep kebudayaan yang kita punya berbeda dengan konsep yang dimiliki oleh Pak Wali. Budaya yang kita bawa kemana-mana merupakan budaya yang asli namun dari yang saya tangkap pada mediasi, konsep budaya pemerintah adalah konsep budaya meriah,” ujar Kepala Sanggar BTBK, Niar Trifinansih eksklusf pada Banyuwangi.viva.co.id.