Kementrian ESDM Pastikan Tidak Ada Tambahan Impor BBM untuk SPBU Swasta

Dirjen Migas Nyatakan Tak Ada Tambahan Impor BBM untuk SPBU Swasta
Sumber :
  • www.antaranews.com

Jakarta, VIVA Banyuwangi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memastikan jika tidak ada tambahan impor bahan bakar minyak (BBM) bagi pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU swasta, seperti Shell, BP, dan Vivo. Seluruh impor BBM dipastikan tetap sinkron dengan Pertamina.

img_title Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Pemerintah Buka Peluang Impor LPG

“Tidak ada. Sinkronisasi (impor) dengan Pertamina,” ucap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman di Kantor Ditjen Migas Kementrian ESDM Jakarta.

Ia meminta kepada kepada para SPBU Swasta, baik Shell, BP AKR, dan Vivo untuk dapat menyerap impor BBM dari Pertamina, sesuai arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

img_title Intip Daftar Harga Terbaru Solar dan Bensin RON 95 di SPBU Pertamina, BP, Shell dan Vivo

Laode juga menjelaskan, pemerintah sudah memberi tambahan impor BBM bagi SPBU swasta sebesar 10 persen dari volume impor tahun lalu. Namun, tambahan tersebut bukanlah kuota baru, melainkan penyesuaian yang tetap harus diambil melalui Pertamina.

“Dan diharapkan badan usaha swasta bisa memanfaatkan kelebihan volume ini untuk mendistribusikan BBM gasoline-nya, bensinnya,” kata Laode Sulaeman, sebagaimana dilansir dari antaranews.com.

img_title Mentan: RI Stop Impor Solar per 1 Juli, Mulai Terapkan B50

Lebih lanjut, ia menegaskan adanya sinkronisasi standar kualitas BBM sesuai regulasi yang dikeluarkan Ditjen Migas. Dengan demikian, tidak akan ada perbedaan spesifikasi antara BBM yang dijual Pertamina maupun SPBU swasta.

“Jadi, ini (kualitas) sudah diatur, harusnya tidak ada isu dengan spesifikasinya,” ujar Dirjen Migas Kementrian ESDM. Selasa, 9 September 2025

Menurut Laode, adanya perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu penyebab meningkatnya permintaan BBM di SPBU swasta. Pada 2025, banyak konsumen yang sebelumnya membeli BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) mulai beralih ke BBM nonsubsidi dengan RON lebih tinggi.

Perubahan pola konsumsi masyarakat inilah yang diyakini Laode menjadi penyebab adanya lonjakan peminat BBM yang dijual oleh para SPBU swasta yang diketahui mayoritas menjual produk BBM nonsubsidi.

“Sebenarnya ini dinamika konsumsi saja, yang tadinya banyak pengguna RON 90 (Pertalite), shifting (berpindah) ke RON lain,” ungkap Laode.

Untuk mengantisipasi potensi kelangkaan, Kementerian ESDM memanggil Pertamina, Shell, BP, dan Vivo dalam rapat bersama. Pertemuan ini merupakan kali pertama digelar guna membahas mekanisme impor BBM.

Halaman Selanjutnya
img_title