Siapa Sosok Menkopolhukam Ideal? Analis Ungkap 3 Kriteria Penting
- YouTube @tvOneNews
Jakarta, VIVA Banyuwangi – Posisi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) saat ini masih kosong, setelah Budi Gunawan diberhentikan dari jabatannya.
Situasi ini memicu perbincangan publik mengenai sosok yang paling pantas menduduki kursi strategis tersebut.
Menanggapi hal ini, analis politik, Ulta Levenia, mengungkapkan tiga kriteria penting yang harus dimiliki oleh calon Menko Polhukam.
Dalam sebuah diskusi, Ulta menjelaskan bahwa calon Menko Polhukam haruslah sosok yang mampu menjembatani komunikasi antara pemerintah dengan generasi muda.
Terutama Gen Z, yang memiliki kekuatan besar dalam dinamika media sosial.
"Calon Menko Polhukam yang baru harus bisa mengerti psikologi, tuntutan, dan perilaku Gen Z," kata analis politik, Ulta Levenia. Dikutip dari kanal YouTube @tvOneNews.
Kriteria kedua adalah kemampuan untuk menciptakan efek gentar, atau deterrence effect.
Ulta menyebutkan bahwa penunjukan seorang tokoh militer, seperti Letnan Jenderal Purnawirawan Sjafrie Sjamsoeddin, bisa menjadi simbol kekuatan bagi pemerintah.
Namun, juga mengingatkan bahwa penunjukan sosok militer bisa menjadi bumerang, karena dapat dianggap sebagai langkah menuju otoritarian oleh komunitas internasional.
"Jika seorang tokoh militer yang dipilih, bisa jadi ada persepsi di mata dunia bahwa Indonesia sedang bergerak ke arah kediktatoran," tambah Ulta.
Ketiga, sosok yang dipilih harus memiliki literasi digital yang mumpuni.
Menurut Ulta, ini penting untuk menangkal narasi-narasi negatif dan disinformasi yang menyasar kelompok rentan seperti Gen Z melalui media sosial.
"Kandidat yang terpilih harus memiliki kemampuan untuk mengcounter narasi negatif di platform digital," ujar Ulta. Senin, 15 September 2025.
Selain itu, Ulta juga menyarankan agar sosok Menkopolhukam yang baru berasal dari kalangan independen untuk meredam ketegangan politik.
Beberapa nama seperti Budi Gunawan dan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Nugroho Sulistiadi Budi juga turut disebut sebagai kandidat potensial.
Ulta menegaskan bahwa tidak ada keharusan bagi Presiden Prabowo Subianto untuk terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Presiden Prabowo, menurut Ulta, memerlukan waktu untuk mencari sosok yang tepat dan memiliki "chemistry" dengannya.