Tersendat di Italia, Aktivis Kemanusiaan Indonesia Gaza Soroti Mafia Game di Balik Hambatan Global South Flotilla ke G
- YouTube @tvOneNews
Italia, VIVA Banyuwangi – Misi kemanusiaan besar yang bertujuan menembus blokade Gaza, dikenal sebagai Global South Flotilla, mengalami hambatan serius dan terdampar di Italia.
Salah satu peserta kunci dari Indonesia, Wanda Hamidah, mengungkapkan bahwa berbagai kendala, baik teknis maupun non-teknis, disinyalir sengaja untuk mencegah para aktivis mencapai Jalur Gaza.
Wanda Hamidah, yang merupakan Aktivis Kemanusiaan dari Indonesia, menumpangi Kapal Kaisar.
Perjalanan mereka dari Tunisia harus terhenti di Porto Palo, Italia, setelah Kapal Kaisar dilaporkan mengalami kebocoran dan membutuhkan perbaikan mendesak.
Situasi ini memaksa Kapal Kaisar, bersama sejumlah kapal lain yang tergabung dalam misi tersebut, untuk sandar dan tertahan di pelabuhan Italia.
Hambatan dalam perjalanan ini tidak hanya datang dari masalah teknis kapal. Wanda Hamidah menyoroti adanya dugaan sabotase dan perilaku tidak profesional dari pihak yang seharusnya mendukung misi ini
“Tidak mudah jalan menuju Gaza,” ujar Aktivis Kemanusiaan Indonesia, Wanda Hamidah. Seperti dilansir dari kanal YouTube @tvOneNews.
“Saya merasa banyak sekali hambatan-hambatan yang tidak disengaja maupun hambatan-hambatan yang disengaja untuk mencegah para partisipan pergi ke Gaza,” kata Wanda Hamidah.
Selain kerusakan kapal, hambatan yang paling mencengangkan adalah hilangnya kapten kapal yang telah disewa rombongan aktivis.
Mereka menduga hal ini adalah bagian dari upaya sistematis untuk menggagalkan pelayaran.
“Dan kapten-kapten yang kami dari Tunisia ternyata adalah bagian dari mafia game,” tutur Wanda Hamidah. Senin, 29 September 2025.
“Artinya banyak yang kabur melarikan diri ketika mereka sudah menerima uang untuk berlayar membawa kami ke Gaza,” tegas Aktivis Kemanusiaan Indonesia, Wanda Hamidah
Meskipun menghadapi tantangan yang sangat besar dan kerugian finansial akibat ulah para kapten, para aktivis dari Global South Flotilla.
Yang terdiri dari 50 kapal sipil, menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan.
Mereka berupaya keras mencari cara agar misi menembus blokade laut Israel ini tetap berjalan.
Wanda Hamidah kini memfokuskan upaya untuk memanfaatkan satu-satunya kapal yang tersisa dan paling andal.
"Sampai hari ini saya masih berusaha menggunakan kapal yang ada, yaitu Kapal Nusantara, kapal Sumut Nusantara yang dibeli dari hasil patungan Malaysia, Indonesia, Maldiv, dan Pakistan,” lanjut Wanda Hamidah