Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Dilakukan Manual dan Penuh Kehati-hatian

Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Sumber :
  • YouTube @tvOneNews

Sidoarjo, VIVA Banyuwangi – Proses pencarian dan penyelamatan korban reruntuhan gedung empat lantai Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan.

img_title RSI Siti Hajar Sidoarjo Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis bagi Masyarakat di CFD Alun-Alun Sidoarjo

Upaya evakuasi ini diwarnai tantangan besar akibat struktur bangunan yang sangat labil.

Memaksa seluruh unsur tim bekerja secara manual dan ekstra hati-hati, bahkan menahan penggunaan alat berat yang berpotensi memicu keruntuhan susulan.

img_title BRIN Dukung Penggunaan APBN untuk Bangun Ulang Ponpes Al Khoziny

Tragedi ini terjadi ketika bangunan pesantren tersebut sedang dalam proses renovasi, tepatnya saat pengecoran di lantai 4.

Beban yang terlalu berat diduga menyebabkan bangunan ambruk.

img_title Operasi SAR Ponpes Al Khoziny Resmi Ditutup, 171 Korban Ditemukan di Sidoarjo

Nahasnya, saat kejadian, banyak santri sedang melaksanakan salat Asar berjemaah di lantai dasar atau lantai 1, yang kemudian menjadi titik utama terperangkapnya korban di bawah tumpukan beton.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan kondisi lokasi dan kendala yang dihadapi tim.

Nanang merinci bahwa bangunan yang ambruk memiliki empat lantai dan korban yang terjebak adalah santri yang sedang beribadah.

"Saat ini untuk proses evakuasi ya kita melaksanakan pencarian hanya di melokasi reruntuhan bangunan,” ujar Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit. Selasa, 30 September 2025.

“Yang saat ini bisa kita lihat di belakang kita bahwa bangunan ini dengan empat lantai,” lanjut Nanang. Seperti dilansir dari kanal YouTube @tvOneNews.

“Kemudian posisi korban yaitu pada saat itu sedang melaksanakan salat jemaah salat asar ya, sehingga banyak korban atau banyak santri-santri yang memang terjebak dalam reruntuhan tersebut," tambah Nanang.

Tim SAR gabungan, yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan, harus mengabaikan penggunaan alat berat seperti ekskavator. Keputusan ini diambil karena risiko yang sangat besar.

"Untuk kendala sendiri dari awal kita melaksanakan evakuasi adalah bahwa struktur bangunan atau reruntuhan ini sangat labil,” ungkap Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit.

“Artinya dengan getaran sedikit itu bisa membuat reruntuhan-reruntuhan bangunan itu akan ambruk kembali," lanjut Nanang.

"Sehingga membahayakan baik korban-korban yang memang kondisi selamat maupun membahayakan bagi para penolong itu sendiri," kata Nanang.

Hingga laporan disampaikan, data menunjukkan total 71 korban telah melakukan evakuasi mandiri dan dirawat di berbagai rumah sakit di Sidoarjo.

Halaman Selanjutnya
img_title