5 Pesepak Bola Muslim Ikonik di Manchester City, Nomor 4 Pernah Bikin Timnas Indonesia Kecewa
- www.tvonenews.com
Sepak Bola, VIVA Banyuwangi –Manchester City tidak hanya dikenal sebagai klub dengan deretan pemain bintang, tetapi juga sebagai tim yang kaya akan keberagaman. Di balik prestasi mereka di Liga Inggris dan ajang Eropa, sejumlah pemain Muslim ikut memberikan warna, meski tak semuanya sering tersorot publik.
Beberapa nama bahkan sempat berhadapan langsung dengan skuad Garuda dalam ajang internasional. Hal ini menambah kisah menarik perjalanan mereka sebelum ataupun saat memperkuat The Citizens.
Dilansir dari tvonenews.com, Kamis 2 Oktober 2025, berikut ini lima pemain muslim yang pernah berseragam Manchester City:
1. Omar Marmoush
Penyerang asal Mesir ini bergabung pada awal 2025. Meski baru tampil tiga kali di Liga Inggris dan kini absen karena cedera, Marmoush mencatat sejarah sebagai penyerang Muslim pertama asal Afrika Utara di era Pep Guardiola.
2. İlkay Gündoğan
Sebelum pindah ke Galatasaray, Gündoğan menjadi satu di antara sosok Muslim paling berpengaruh di City. Gelandang asal Jerman berdarah Turki itu dikenal religius, kerap berdonasi saat Ramadan, sekaligus menjadi inspirasi bagi pemain muda Muslim.
3. Rayan Aït-Nouri
Bek kiri keturunan Aljazair ini baru saja direkrut City. Rayan Aït-Nouri mencatat sejarah sebagai fullback Muslim pertama di bawah Guardiola. Kebiasaannya berdoa sebelum dan sesudah laga membuatnya dikenal sebagai pemain yang menjunjung tinggi nilai spiritual.
4. Abdukodir Khusanov
Bek tengah muda asal Uzbekistan ini dikenal sebagai satu di antara talenta menjanjikan. Catatannya sempat membuat publik Indonesia menaruh perhatian.
Saat membela Uzbekistan U-23, Abdukodir Khusanov menghadapi Timnas Indonesia U-23 di semifinal Piala Asia 2024 dan membawa timnya menang 2-0. Kekalahan itu memupus asa Garuda Muda untuk lolos langsung ke Olimpiade 2024.
5. Riyad Mahrez
Meski kini bermain di Al-Ahli, Mahrez tetap dikenang sebagai ikon Muslim saat masa kejayaannya di City. Riyad Mahrez rutin berpuasa meski jadwal padat dan sering berbagi momen religius di media sosial.
Keberagaman di tubuh Manchester City membuktikan sepak bola bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang inklusif yang merayakan perbedaan.