Salah Satu Korban Tewas Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Dimakamkan di Jember
- Palupi Ambarwati/ VIVA Banyuwangi
Jember, VIVA Banyuwangi – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar almarhum Raffi Catur Okta Mulya Pamungkas, salah satu santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, yang menjadi korban meninggal dunia dalam peristiwa ambruknya bangunan pondok tersebut, beberapa waktu lalu.
Jenazah Raffi yang sebelumnya dievakuasi ke RSUD Sidoarjo, akhirnya dibawa pulang oleh keluarganya ke kampung halaman orang tuanya di Jember untuk dimakamkan. Prosesi pemakaman dilakukan di pemakaman umum Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, Jember.
Tanah makam yang masih basah dengan taburan bunga menjadi saksi bisu kepergian Raffi untuk selama-lamanya. Santri yang dikenal pendiam dan santun itu telah kembali ke haribaan-Nya di usia yang masih sangat muda.
Misnadi, paman almarhum, tak kuasa menahan kesedihan. Ia mengaku tak menyangka keponakannya akan pergi secepat ini.
“Raffi anaknya pendiam, santun. Kami tidak menyangka akan secepat ini kehilangannya,” ujar Misnadi singkat, saat ditemui di lokasi pemakaman.
Sementara itu, Mulyono, ayah almarhum Raffi, menceritakan bahwa saat kejadian berlangsung, dirinya sedang bekerja. Ia baru mengetahui kabar ambruknya bangunan Ponpes dari berita di media sekitar pukul 16.00 WIB.
“Sekitar tengah malam saya dapat kabar dari pondok bahwa Raffi termasuk salah satu korban yang meninggal dunia. Kami sekeluarga langsung berangkat ke Sidoarjo untuk menjemput jenazah,” tutur Mulyono.
Lebih memilukan lagi, menurut pengakuan beberapa teman Raffi yang selamat, Raffi sempat menolong dua rekannya agar menjauh dari reruntuhan. Namun nahas, justru dirinya yang menjadi korban.
“Kata teman-temannya, Raffi sempat menyuruh dua temannya menyelamatkan diri. Tapi dia sendiri tertimpa bangunan,” lanjut Mulyono.
Sebelum berangkat ke pondok beberapa waktu lalu, Raffi juga sempat meminta foto bersama seluruh keluarganya. Ia berpesan agar jika ada rasa rindu, keluarganya cukup melihat foto itu.
Firasat tersebut kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Waktu itu dia minta foto keluarga, katanya kalau kangen lihat saja fotonya. Ternyata itu jadi firasat,” kenang Mulyono dengan mata berkaca-kaca.
Tragedi runtuhnya bangunan di Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban.