Operasi SAR Ponpes Al Khoziny Resmi Ditutup, 171 Korban Ditemukan di Sidoarjo
- https://www.youtube.com/watch?v=LATV8SFu968
Sidoarjo, VIVA Banyuwangi –Setelah sembilan hari pencarian intensif, tim SAR gabungan resmi menutup operasi pencarian korban tragedi runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Tragedi ini menelan 171 korban, terdiri dari 104 selamat dan 67 meninggal dunia.
Deputi 3 Tanggap Darurat BNPD, Budi Irawan menyampaikan bahwa penutupan operasi dilakukan setelah seluruh area reruntuhan berhasil diperiksa.
“Kami pastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun. Semua titik pencarian sudah dibersihkan dan diperiksa secara menyeluruh,” ujar Budi di lokasi kejadian. Senin, 6 Oktober 2025.
Selama proses evakuasi, tim SAR dari Basarnas, BNPB, TNI, Polri, serta relawan bekerja tanpa henti selama 24 jam. Mereka menggunakan alat berat seperti ekskavator, breaker, dan truk pengangkut untuk menyingkirkan puing-puing bangunan musala yang menjadi pusat runtuhan.
Menurut laporan resmi, seluruh puing telah diratakan dan lokasi kini dalam tahap pembersihan akhir. Pemerintah setempat menegaskan bahwa penutupan operasi SAR bukan akhir dari proses penanganan. Fokus kini beralih pada proses identifikasi korban dan rehabilitasi lokasi.
“Meskipun operasi SAR ditutup, identifikasi dan pemulihan tetap berjalan. Kami ingin memastikan semua korban dikenali dan dikembalikan ke keluarganya,” jelas Budi, seperti dilansir dalam kanal @tvOneNews.
Hingga saat ini, 17 jenazah telah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI Polda Jawa Timur di RS Bhayangkara Surabaya. Pencocokan dilakukan melalui data antemortem dan posmortem, seperti sidik jari dan catatan medis.
Salah satu kendala utama selama proses evakuasi adalah struktur beton yang menimpa bangunan di sekitar musala. Tim SAR harus berhati-hati agar tidak menimbulkan kerusakan tambahan pada bangunan yang masih berdiri.
Area wudu dan ruang salat asar menjadi titik utama pencarian, karena di lokasi itu ditemukan sebagian besar korban.
Dengan berakhirnya operasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Sidoarjo segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan bangunan dan standar keselamatan pondok pesantren.
Tragedi ini menjadi pengingat penting tentang kewaspadaan terhadap risiko struktural dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan pendidikan keagamaan.