Dari Limbah ke Gizi, Solusi Terpadu Arjasa Atasi Polusi dan Stunting

kotoran ternak disulap menjadi sumber ekonomi
Sumber :
  • humas polije/VIVA Banyuwangi

Jember, VIVA Banyuwangi –Terobosan inovatif dalam mengelola kotoran ternak dan memanfaatkan pangan lokal berhasil menjawab dua masalah sekaligus di Kecamatan Arjasa yakni pencemaran lingkungan dan tingginya angka stunting. Program terpadu ini mengubah limbah peternakan menjadi sumber ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat dengan bahan-bahan lokal yang mudah diakses.

img_title Program Kemitraan Jagung Jember Bantu Petani Lepas Dari Utang Yang Mencekik

Pengolahan kotoran ternak yang semula menjadi sumber pencemaran berhasil diubah menjadi berkah melalui teknologi sederhana. 

"Melalui proses vermikompos, kotoran ternak tidak lagi mencemari lingkungan, melainkan menghasilkan pupuk organik berkualitas dan cacing sebagai sumber protein untuk pakan ternak," papar Dr. Mira Andriani, S.Pt., M.P.

img_title Tak Terkalahkan! Tim Batara FC U12 Sapu Bersih Babak Penyisihan Pordes Cup VII 2026

Di bidang kesehatan, pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi senjata ampuh melawan stunting. 

"Kami mengoptimalkan potensi lokal seperti daun kelor yang kaya zat besi, ubi yang mengandung vitamin A, dan jagung sebagai sumber karbohidrat untuk membuat makanan bergizi," jelas Muhammad Abdul Rauf, M.Gz. 

img_title Nasi Berbuka Murah Rp3 Ribu di Jember Diserbu Warga

Berbagai olahan seperti biskuit kelor dan nugget ikan gabus menjadi solusi praktis masalah gizi.

Peran perempuan dalam program ini sangat signifikan, terutama ibu-ibu PKK dan kader posyandu. Mereka menjadi ujung tombak dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat untuk memproduksi makanan bergizi dan mengelola pupuk organik. 

"Ibu-ibu tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku aktif perubahan di masyarakat," tambah Rauf.

Dukungan pemerintah desa menjadi pengungkit penting dalam keberhasilan program. 

"Kami melihat program ini sebagai investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang sehat dan lingkungan yang bersih," ungkap Wasiah, Kepala Desa Arjasa. 

Komitmen pemerintah desa mewujudkan dalam bentuk fasilitasi sarana dan pendampingan berkelanjutan.

Keberhasilan Arjasa menginspirasi daerah sekitarnya untuk menerapkan model serupa. 

"Pendekatan berbasis potensi lokal ini terbukti efektif dan dapat direplikasi di mana saja," kata Dr. Mira. 

Program ini tidak hanya menyelesaikan masalah inmediat, tetapi juga menciptakan kemandirian masyarakat dalam mengelola lingkungan dan memenuhi kebutuhan gizinya.