Relokasi Pedagang ke GOR A Yani Tuai Pro dan Kontra, Ini Tanggapan Wali Kota Probolinggo

Kawasan Sentra Kuliner GOR A Yani Probolinggo
Sumber :
  • Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi

Probolinggo, VIVA Banyuwangi – Sejumlah pedagang yang direlokasi dari Kawasan Alun-Alun Kota Probolinggo ke Kawasan GOR Ahmad Yani mengeluhkan turunnya omzet penjualan mereka. Sejak dipindahkan pada 10 Agustus 2025, pada pedagang mengaku pendapatan menurun secara signifikan karena menurunnya jumlah pembeli.

img_title Usai Pemberian SP dan Penertiban, Satpol PP Tekankan Solusi Relokasi

Keluhan itu diampaikan para pedagang saat ditemui pada Jum’at, 10 Oktober 2025. Salah satu pedagang mengungkapkan bahwa Ketika masih berjualan di Alun-Alun, dagangan mereka selalu ramai pembeli, karena Lokasi yang berada di pusat keramaian, dan mudah diakses Masyarakat.

“Biasanya Kalau di Alun-Alum jam segini sudah dapat uang karena sudah punya pelanggan di sana. Di sini (GOR Ahmad Yani) sepi, tidak ada pelanggan,” ujar salah satu penjual, Amin, secara eksklusif kepada Banyuwangi.viva.co.id. Amin juga menambahkan, akibat tidak ada pelanggan, makanan dagangannya terpaksa dibuang, sehingga justru menambah kerugian, alih-alih keuntungan.

img_title Pedagang Pasar Banyuwangi Merana, Pasar Induk Mangkrak!

Selain terkendala Lokasi yang hanya dikunjungi orang orang-orang tertentu saja, para pedangan juga menyoroti jam operasional yang dinilai cukup terbatas. Menurut mereka, pebatasan waktu berdagang membuat peluang untuk mendapatkan pembeli semakin kecil.

“Di sini jam 10 malam harus sudah tutup, kalau berjualan di Alun-Alun terserah mau tutup jam berapa, mau 24 jam boleh,” ujar Budi, penjual es Teler.

img_title Menu MBG Dengan Tamagoyaki Jepang Ala Chef Devina Sehat dan Enak

Suasana Malam di Sentra Kuliner GOR A Yani Probolinggo

Photo :
  • Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi

Namun, tidak semua pedagang berpandangan negative. Beberapa di antaranya justru melihat sisi positif dari relokasi ini. Mereka menilai Lokasi di GOR Ahmad Yani cukup strategis karena arena tersebut difokuskan untuk kuliner.

“Yang Namanya pedagang kan beda-beda. Kalau saya Alhamdulillah di sini lancar, sama-sama ramai karena saya juga berpromosi melalui media sosial, sehingga pelanggan tahu saya pindah tempat,” ujar salah satu penjual, Ririn.

Hal senada juga disampaikan oleh Ari, salah satu penjual di Gor Ahmad Yani. Menurut Ari, pengunjung yang datang juga akan lebih terarah untuk menikmati beragam pilihan makanan yang tersedia.

“Menurut saya, di sini prospek. Kalau malam mingu pasti ramai, orang dari luar kota juga bertadangan kemari. Ada yang dari Nguling, ada yang dari Maron. Datang karena ingin tahu tempatnya seperti apa,” Ujar

Halaman Selanjutnya
img_title